Yang menyebutnya sebagai tempat hidupnya para apatis; sekumpulan individu yang menjelma menjadi populasi miskin harapan.
Bukan tanpa kesadaran, hanya saja kesadaran itu telah dirampas bersama janji manis para elite; yang nikmatnya hanya sampai kertas suara saja.
Yang peka pada perubahan dan harapan, dikecewakan dan juga di abaikan; hingga akhirnya lupa tanggal pemilihan dan fungsi kertas suara.
Mereka yang disebut anti demokrasi bukan tanpa kontribusi; olehnya tersadar akan defisit demokrasi.
Tak perlu jauh mengumbar khayal, sebab ini bukan ajang pencarian khayal. Jangan lahirkan sumpah serapah oleh hanya karena coba-coba, yang ada semakin akan bertambah.
Bukan tak ingin bersuara; bersuara bukan sebatas untung-untungan. Bukan tak ingin menggunakan suara; suara adalah sebuah harapan. Bukan tak ingin menyuarakan; menyuarakan adalah kepercayaan.
Siatuasi politik yang tak karuan, membuat sekawan yang disebut "golongan" semakin bingung membuat rumusan; belum lagi demokrasi yang dirasa memberi pergantian bukan perubahan.
Yang menyebutnya sebagai tempat hidup para apatis; kini menjelma menjadi klinik bagi korban luka politik di masa silam.Â
Adakah yang ingin memulihkannya ?
(Plg, 07/02/19)
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H