Mohon tunggu...
Niko Nababan
Niko Nababan Mohon Tunggu... Guru - Manusia biasa yang berproses menjadi seorang guru

Temukan saya di: http://nikonababan.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi Pilihan

Malam dalam Secangkir Kopi

24 Desember 2018   13:16 Diperbarui: 24 Desember 2018   13:20 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Gambar: melulukopi.blogspot.com

Ia masih bertanya
Tentang keberadaannya

Mengapa ia ditinggalkan ?
Mengapa ia dicampakkan ?

Dunia enggan memberi jawaban
Intelektual sudah dijarah
Menyisakan segelintir teori
Yang diramu oleh sekumpulan sok logis

Ia besama kecurigaan
bersama kecemasan
namun terlalu berlebihan
Katanya:
Itu salah satu cara menikmati gelap

Nestapa !
Semua mata masih terus berdusta
Memberi aba-aba kepada mulut
Untuk memaki dan mencaci gelap dan sekutunya
Berkata seolah bijaksana
Padahal penuh kepalsuan

Fajar datang dan menghakimi sepihak
Terbuai oleh narasi-narasi
yang penuh imajinasi
Gelap dikambing hitamkan
Lalu dicampakkan
Hingga ke barat cakrawala

Disana,
Gelap datang dan mengkritik senja
Katanya:
"Kau hanya bisa menyeduhnya
Tetapi kau tidak meminumnya"

"Kau kumpulkan semua luka dan kau larutkan dalam secangkir kopi"

"Kau persilahkan aku meneguknya, kemudian kau pergi dan  tanpa meninggalkan sisa-sisa cahaya senja"

Palembang, Desember 18

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun