Terlihat pesawat dengan dua baling-baling pada sayapnya itu meluncur kian lesat. Sekian detik kemudian, roda depan pesawat mulai terangkat. Lantas, Gatot Kaca melesat, mengangkasa.
Sontak kami di ruangan itu bertepuk tangan. Beberapa pasang mata dari kami menitikkan air mata. Kami pun bersalaman. Kebahagian juga terlihat pada wajah sumringah Presiden Soeharto, Habibie, sejumlah menteri, pejabat Negara, dan lainnya yang saat itu menghadiri peluncuran CN 250 Gatot Kaca di Husen Sastranegara.
Bagi saya pribadi, Habibie adalah salah seorang anak bangsa yang lahir di saat yang tepat. Sepanjang hidupnya Habibie telah banyak menyumbangkan buah pikirannya bagi bangsa ini. Dan, bagi bangsa Indonesia, sosok Habibie sendiri sangat identik dengan kegeniusan dan kesetiaan.
Tetapi, keidentikan Habibie inilah yang justru menjengkelkan banyak pria Indonesia.
Bayangkan, saat kita masih sekolah, orang tua kita kerap mengingatkan untuk rajin belajar. "Belajar yang rajin. Biar pinter seperti Habibie."
Setiap ada koran atau majalah yang mengulas Habibie, orang tua kita seolah mendapatkan senjata untuk mengintimidasi kita. "Baca nih koran. Biar kamu seperti Habibie."
Nama Habibie, kalau diucapkan orang tua, seperti monster Buto Ijo.
Sayang, pada masa itu KPAI belum ada. Kalau sudah ada, bisa dipastikan ada banyak anak yang melaporkan tindakan orang tuanya.
Apalagi kalau orang tua menganggap nilai rapot kita jelek. "Nilai segini, gimana mau seperti Habibie."
Seandainya ada jin botol yang menawarkan satu permintaan, pasti saya dan banyak anak Indonesia lainnya akan meminta, "Kembalikan Habibie ke Jerman."