Dari gaji dokter di bawah tukang parkir, klaten dibanjiri beras impor, maskapai Garuda Indonesia bangkrut, sampai harga gula lebih mahal dari harga durian. Pendukungnya tetap setia kepadanya.
Meski kerap bicara ngawur tak jelas arah dan maknanya, elektabilitas Prabowo naik 2,5 persen. Sementara tingkat elektabilitas Jokowi justru melorot 2,8 persen. Kedua angka tersebu dirilis Indikator di awal Januari 2019. Â
Berbeda dengan Prabowo, pendukung Jokowi mudah berubah arah. Kelompok pendukung Jokowi ini sangat rentan terhadap isu-isu. Sekalipun kecil kemungkinan beralih menjadi pemilih Prabowo, kelompok ini akan menjadi golput yang pada ujungnya menggerogoti elektabilitas Jokowi. Karenanya Jokowi harus tetap pada relnya,
Karenanya, bagi Jokowi-Ma'ruf debat capres selanjutnya akan menjadi ajang pembuktian konsistensi penampilannya. Jika Jokowi tampil lebih buruk dari debat perdana, bisa jadi tingkat elektabilitasnya dapat menurun.
Sebaliknya, jika membaca hasil surveinya, Â LSI seolah mengiizinkan Prabowo untuk kembali bicara ngawur tanpa berargumen sekaligus kembali unjuk kebolehan jodednya.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI