"Aswatama mati...!"
Kabar kematian putra tunggal Resi Dorna itu menggema ke seluruh medan perang Kurusetra.
Mendengar kematian putra kesayangannya, Dorna atau yang juga dikenal dengan nama Begawan Kombayana yang saat itu tengah beradu kesaktian melawan Arjuna meminta gencatan senjata.
Ditanyakanlah kabar duka itu kepada Arjuna, lalu Nakula dan Sadewa. Tetapi Dorna tidak mendapatkan jawaban yang meyakinkan dari ketiganya. Kemudian, dicarinya Yudhistira yang dikenal luas tidak pernah sekalipun berbohong.
Di hadapan Yudhistira, Dorna pun menyampaikan pertanyaannya, "Ngger, benarkah putraku Aswatama telah gugur?"
"Benar Eyang, Suratama telah mati," jawab Yudhistira dengan melemahkan suaranya pada "Sura" dan mengeraskannya pada "Tama".
Mendapatkan kepastian tentang kabar kematian putra kesayangannya, kesedihan pun merayapi jiwa sang Begawan. Sontak semangat hidup resi sakti mendraguna itu pun menghilang.
Dengan lunglai Dorna duduk bersila. Ia memohon kepada para dewa untuk dapat melepaskan nyawanya. Tidak lama kemudian, menemui ajalnya. Dorna telah memilih kematiannya sendiri.
Jika saja Dorna lebih tenang dalam menghadapi berita yang dterimanya, mungkin akhir dari perang Baratayudha tidak seperti yang diceritakan saat ini.
Karena, yang tewas sebenarnya bukan Aswatama, tetapi gajah bernama Asuratama yang dibunuh oleh Bima. Dan, atas perintah Sri Kresna, Bima memelintir "Asuratama" menjadi "Aswatama".
Itulah kabar hoax yang membumbui kisah Mahabharata. Dan, para dewa pun marah atas cara Yudhitira menjawab pertanyaan Dorna. Kemarahan para dewa itu terlihat dari roda kereta Yudhistira yang mendadak menyentuh tanah.