[caption caption="http://cdn.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2015/03/05/508673/content_images/670x335/20150305182556-1-art-in-island-museum-008-tantri-setyorini.jpg"][/caption]
Bicaralah pada sepi bila terluka oleh keriuhan.
Ketika hiruk pikuk merayap, kumpulan nafsu perlahan menikam nurani. Dibaliknya, didihan dendam siap menyembur di hamparan logika.
Biarkan sepi mendengar setiap kata yang basah oleh tangis. Katakanlah semua tentang nyeri segenap hari. Kabarkanlah tentang gelombang sembilu yang menoreh selaput rasa. Sampaikanlah tentang pengkhiatan arus kata. Yang menikam ulu hati.
Sepi tak menutup luka, tapi dijauhkannya dari masa nyeri yang panjang. Tepi luka dibasuh, dan darah hitam dilenyapkan agar tak bernanah. Dibebaskannya ceruk menganga dari debu agar tak tercipta ruang dendam.
Dari ruang sepi itu kadang hadir iblis rupawan. Dia tawarkan khusyuk dalam hening kegelapan penghilang perih. Disapanya luka dengan bahasa cinta palsu penuh culas. Bila terlena, di ruang sepi itulah luka menjemput kematian logika dan rasa.
Bicaralah pada sepi dan jangan lalai dalam sunyi. Tersebab iblis seringkali tetiba hadir bagai teman lama disuatu masa terbaik.
_____
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H