"Saya marah kalau sayang pulang terlalu malam", atau ganti dengan kata "Saya tidak suka
"Saya marah karena dibiarkan mengurus anak sendirian"
"Saya tidak suka kalau Sayang terlalu sibuk dengan gadget"
"Saya tidak setuju kalau Sayang berteriak, pelan juga terdengar"
Itu beberapa kalimat kemarahan terhadap pasangan, Jadi kita mengungkapkan langsung pada point kenapa kita marah. Ingat yang membuat kita marah adalah sikapnya bukan pribadinya.
2. Tunda kemarahan
Menunda kemarahan bisa dilakukan ketika waktunya kurang tepat untuk menyampaikan terhadap pasangan, misalnya saat suasana lagi ramai atau saat anak-anak lagi bersama.
Tundalah kemarahan anda dan sampaikan saat situasi sudah memungkinkan untuk menyampaikannya. Anda jangan sesekali marah terhadap pasangan didepan banyak orang atau didepan keluarga karena itu akan menghilangkan harga diri pasangan anda didepan keluarga dan anak-anak anda.
3. Menghadirkan orang ketiga sebagai media
Menghadirkan orang ketiga bukan berarti anda memanggil orang untuk menyaksikan pertengkaran anda atau menjadikan orang tersebut terlibat. Maksudnya disini adalah.
Anda bercerita kepada orang lain, pastikan orang tersebut dapat anda percaya, bukan kepada orang yang dulunya benci kepada pasangan anda atau orang tua yang tidak setuju dengan pernikahan anda. Tetapi hadirkan orang ketiga sebagai mediator yang bersikap netral.
Terkadang dengan menceritakan masalah kita kepada orang lain kita menemukan solusi sendiri, kita hanya perlu bercerita. Hal ini bisa anda lakukan saat anda sudah tidak menemukan titik temu dipermasalahan anda.
4. Menjelaskan alasan konflik pada anak tetapi bukan menceritakan konflik dan keburukan pasangan
Anak yang mendengar pertengkaran kita mungkin akan bingung kenapa ayah-ibunya bertengkar. Maka tanyalah kepada anak contohnya seperti ini,