Mohon tunggu...
Frans Leonardi
Frans Leonardi Mohon Tunggu... Akuntan - Freelace Writer

Sebagai seorang introvert, Saya menemukan kekuatan dan kreativitas dalam ketenangan. Menyukai waktu sendirian untuk merenung dan mengeksplorasi ide-ide baru, ia merasa nyaman di balik layar ketimbang di sorotan publik. seorang amatir penulis yang mau menyampaikan pesannya dengan cara yang tenang namun , menjembatani jarak antara pikiran dan perasaan. Salam dari saya Frans Leonardi

Selanjutnya

Tutup

Healthy Pilihan

Krisis Kesehatan Mental Menghantui Gen Z Indonesia

22 November 2024   16:15 Diperbarui: 22 November 2024   17:18 223
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Pria Depresi. Pixabay.com/whoismargot

Generasi Z, yang lahir antara 1997 hingga 2012, dikenal sebagai generasi yang dibesarkan dengan teknologi, selalu terhubung lewat internet, dan bisa mengakses informasi dalam hitungan detik. Generasi ini dipandang sebagai generasi yang inovatif, berani mengambil risiko, dan sangat mengutamakan keberagaman serta keterbukaan. Namun, di balik semua kelebihan tersebut, ada tantangan besar yang sedang mereka hadapi yaitu, krisis kesehatan mental yang mengancam kesejahteraan mereka. Fenomena ini semakin mencuat di tengah semakin kompleksnya tekanan hidup dan sosial yang mereka alami, dan di Indonesia, masalah ini semakin relevan dan butuh perhatian serius.

Mengapa Kesehatan Mental Generasi Z Menjadi Masalah Serius?

Generasi Z tumbuh di era di mana ekspektasi terhadap mereka sangat tinggi. Teknologi dan media sosial membuka banyak peluang, namun di sisi lain juga membawa banyak tekanan. Dulu, kita mungkin mengenal kesehatan mental sebagai sesuatu yang hanya dibicarakan di kalangan orang dewasa atau profesional kesehatan, tetapi kini, masalah ini sudah merambah ke generasi yang lebih muda.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2023, sekitar 18,1% remaja Indonesia mengalami gangguan kesehatan mental. Angka ini semakin meningkat setiap tahunnya. Generasi Z, yang banyak berada dalam rentang usia 12 hingga 26 tahun, menjadi kelompok yang paling rentan. Dengan meningkatnya stres akademik, ekspektasi sosial, serta ancaman akan masa depan yang tidak pasti, mereka harus menghadapi banyak tantangan yang dapat merusak kesehatan mental mereka.

Penyebab utama dari krisis ini tidak hanya datang dari faktor eksternal, tetapi juga internal. Perkembangan teknologi, misalnya, memberikan akses yang begitu luas kepada mereka untuk saling terhubung, namun di sisi lain juga meningkatkan tekanan untuk selalu tampil sempurna di depan publik. Media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Twitter memberikan gambaran kehidupan yang ideal, yang akhirnya membuat banyak remaja merasa tidak cukup baik atau tidak cukup memenuhi standar yang ada. Hal inilah yang sering kali memicu perasaan cemas, depresi, dan bahkan gangguan makan.

Dampak Media Sosial pada Kesehatan Mental

Media sosial bisa menjadi pisau bermata dua. Meskipun membawa manfaat besar dalam hal komunikasi dan akses informasi, media sosial sering kali berfungsi sebagai tempat bagi banyak remaja untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain. Fenomena ini dikenal dengan istilah "social comparison". Banyak remaja merasa tertekan untuk selalu tampil sempurna, mengikuti tren terbaru, dan hidup sesuai dengan standar yang ditampilkan oleh selebritas atau influencer di media sosial.

Sebuah studi yang dilakukan oleh American Psychological Association (APA) menemukan bahwa terlalu banyak waktu yang dihabiskan di media sosial dapat berkontribusi pada kecemasan dan depresi. Penelitian ini menunjukkan bahwa remaja yang lebih sering menggunakan media sosial lebih cenderung merasa rendah diri dan terisolasi, karena mereka merasa hidup mereka tidak sebanding dengan apa yang mereka lihat di dunia maya.

Di Indonesia, fenomena ini juga semakin mencolok. Banyak remaja yang merasa tertekan untuk selalu menampilkan sisi terbaik mereka, bahkan jika itu hanya ilusi. Tentu saja, ini berdampak langsung pada kesehatan mental mereka.

Tekanan Akademik dan Keluarga yang Tak Kalah Besar

Selain tekanan sosial yang datang dari media sosial, Generasi Z juga harus menghadapi tekanan akademik yang tak kalah berat. Dalam beberapa tahun terakhir, sistem pendidikan di Indonesia semakin menuntut prestasi akademik yang tinggi. Ujian, tugas, dan harapan untuk masuk universitas terbaik membuat banyak pelajar merasa terjepit. Apalagi, di banyak keluarga, ada ekspektasi tinggi untuk anak-anak mereka agar bisa mencapai kesuksesan dalam waktu yang relatif singkat.

Di beberapa kasus, harapan yang diberikan orang tua terlalu tinggi dan membuat remaja merasa bahwa mereka harus selalu sempurna. Jika mereka gagal atau merasa tidak mencapai target, perasaan kecewa dan cemas muncul. Bahkan, beberapa remaja merasa tidak ada ruang bagi mereka untuk berbuat salah atau gagal. Hal ini dapat memicu rasa stres yang berlarut-larut dan berujung pada gangguan mental seperti depresi dan kecemasan.

Tantangan yang lebih besar adalah kenyataan bahwa di Indonesia, pembicaraan tentang kesehatan mental dalam keluarga sering kali dianggap tabu. Sebagian besar orang tua merasa bahwa kesehatan mental tidak lebih penting daripada kesehatan fisik, atau bahkan ada yang menganggap bahwa gangguan mental hanya terjadi pada orang yang "lemah". Akibatnya, remaja merasa kesulitan untuk mencari dukungan, baik dari keluarga maupun teman-teman mereka.

Pandemi COVID-19 Memperburuk Krisis Kesehatan Mental

Pandemi COVID-19 memperburuk situasi yang sudah ada. Selama lockdown, banyak remaja yang kehilangan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan teman-teman mereka, yang merupakan salah satu cara utama untuk meredakan stres. Belum lagi, masalah ekonomi yang muncul akibat pandemi menambah kekhawatiran mereka tentang masa depan. Mereka semakin terjebak dalam ketidakpastian yang tak hanya memengaruhi keadaan ekonomi keluarga, tetapi juga kesejahteraan mental mereka.

Penutupan sekolah dan kampus membuat banyak remaja merasa terisolasi, yang berdampak pada peningkatan kecemasan dan depresi. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan oleh International Journal of Environmental Research and Public Health (IJERPH) pada tahun 2021, hampir 40% remaja yang mengikuti survei tersebut melaporkan bahwa mereka mengalami gangguan kecemasan atau depresi selama pandemi.

Apa yang Bisa Dilakukan?

Menghadapi krisis kesehatan mental pada Generasi Z Indonesia memang bukan perkara mudah, tetapi bukan berarti tidak ada solusi. Untuk mulai mengatasi masalah ini, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan oleh berbagai pihak.

  1. Pentingnya Edukasi tentang Kesehatan Mental
    Pendidikan tentang kesehatan mental harus dimulai sejak dini. Di sekolah-sekolah, seharusnya ada kurikulum yang membahas bagaimana cara mengelola stres, mengenali tanda-tanda gangguan mental, dan mencari bantuan jika diperlukan.

  2. Menciptakan Ruang Dukungan yang Aman
    Keluarga dan teman-teman seharusnya menjadi tempat yang aman untuk berbicara tentang masalah mental. Orang tua perlu lebih memahami bahwa anak-anak mereka juga butuh dukungan emosional. Selain itu, sekolah dan kampus harus menyediakan konseling yang mudah diakses dan tidak menambah stigma terhadap kesehatan mental.

  3. Meningkatkan Akses Terhadap Layanan Kesehatan Mental
    Akses terhadap layanan kesehatan mental harus diperluas. Psikolog dan psikiater perlu lebih banyak tersedia, terutama di kota-kota kecil. Teknologi juga bisa dimanfaatkan untuk memberikan layanan konseling jarak jauh yang lebih terjangkau.

  4. Membuka Ruang untuk Diskusi
    Masyarakat juga harus belajar untuk membuka ruang diskusi tentang kesehatan mental. Menghilangkan stigma yang melekat pada gangguan mental sangat penting agar lebih banyak remaja merasa aman untuk mencari bantuan tanpa merasa dihakimi.

Kesimpulan

Kesehatan mental bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Bagi Generasi Z, yang saat ini menghadapi tekanan sosial, akademik, dan bahkan ancaman pandemi, kesejahteraan mental mereka perlu mendapatkan perhatian serius. Dengan semakin terbukanya percakapan tentang isu ini, diharapkan kita bisa membantu mereka untuk merasa didengar, dipahami, dan diberi kesempatan untuk mengatasi tantangan mereka dengan lebih baik.

Krisis kesehatan mental yang menghantui Generasi Z Indonesia bukan hanya masalah mereka, tetapi juga masalah kita semua. Sudah saatnya kita bergotong royong untuk menciptakan lingkungan yang lebih sehat, tidak hanya secara fisik, tetapi juga mental. Ayo, mulai percakapan ini dan beri dukungan yang mereka butuhkan!

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Healthy Selengkapnya
Lihat Healthy Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun