Mohon tunggu...
Panji Hadisoemarto
Panji Hadisoemarto Mohon Tunggu... pelajar/mahasiswa -

Nama saya Panji. Lahir di Bandung tahun 1979. Sedang belajar tentang kesehatan masyarakat global di Harvard University.\r\n\r\nhttp://panjifortuna.jimdo.com/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Matematika Poligami

2 Desember 2009   18:38 Diperbarui: 26 Juni 2015   19:06 801
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Anda mau poligami? Jangan sembarangan, ada matematikanya.

Orang yang mendengar kata "poligami" pastinya terbagi menjadi tiga bagian: pro, kontra dan, apalagi kalau bukan, abstain. Saya sendiri termasuk ke dalam yang ketiga. Pasalnya, walaupun sekarang banyak pendapat kontra poligami, di dalam agama saya, Islam, poligami tidak dilarang. Bahkan saya tahu kalau poligami pun dahulu banyak dipraktekkan di dalam masyarakat Indonesia, seperti bangsawan Jawa, dan saya tidak pernah mendengar ada gerakan kontra poligami di masa itu (mungkin juga karena tidak pernah terdokumentasi, sih...). Jadi saya abstain, saya tidak mau menghakimi makna kata poligami. There must be something more to it.

Hari ini, keabstainan saya makin kuat. Tapi saya punya sedikit lebih banyak argumen untuk bilang: "tergantung." Maksud saya, dukungan atau penolakan saya terhadap poligami akan tergantung dari apa yang baru saya pelajari hari ini: matematika poligami.

Praktek poligami masih banyak dijumpai di beberapa masyarakat di Afrika. Ahli demografi, ternyata, menjelaskan fenomena ini secara matematis, di luar faktor budaya ataupun agama. Ada tiga faktor yang mendukung keberlangsungan poligami:

Pertama, perbandingan jumlah laki-laki dengan jumlah perempuan. Semakin banyak jumlah perempuan dibanding laki-laki, poligami semakin mendapat tempat. Logis. Buat apa perempuan bersedia jadi istri kesekian kalau masih banyak pilihan. Ya kan? Kedua, perbedaan  umur waktu menikah. Semakin besar beda umur, atau bisa juga diartikan semakin muda rata-rata umur seseorang (perempuan) menikah, semakin besar kemungkinan poligami berlangsung. Faktor yang ketiga adalah kemungkinan seorang perempuan untuk menjanda, entah karena perceraian atau suaminya meninggal. Semakin banyak yang menjanda, semakin poligami bisa bertahan. Tentunya, banyak yang harus dijelaskan tentang kenapa di Afrika faktor-faktor tersebut 'klop' untuk mendukung berlangsungnya poligami, tapi tidak akan saya bahas di sini.

Singkatnya, ditambah faktor agama, budaya dan ekonomi, jadi lebih jelas buat saya kapan saya bisa menerima ide poligami dan kapan saya tidak perlu berpikir dua kali untuk menolaknya. Tergantung dari kondisi lokal, poligami bisa dianggap merendahkan kaum perempuan atau menjadi solusi masalah sosial. Di Rusia atau Mongolia, sebagai contoh di luar Afrika, banyak yang mempraktekkan poligami karena jumlah pria yang sedikit, dan yang sedikit itu banyak yang penganggur dan pemabuk. Gawat. Istilahnya: "half a good man is better than none at all."

Dari mata seorang muslim, saya berpendapat Islam sangat bijaksana dalam mengatur poligami. Bukan perintah, tidak juga dilarang. Lihat dulu matematikanya. Lihat dulu apakah poligami adalah solusi atau tambahan masalah. Tapi maaf, buat pendukung poligami, saya tegaskan saja kalau kondisi demografi, sosial dan ekonomi Indonesia tidak mendukung praktek poligami. Kecuali Anda mau menikahi janda-janda tua (>65 tahun, hehehe...), atau pindah ke Siberia, mungkin tidak akan ada yang keberatan.

PFH

Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun