Kekacauan hidup yang sebenarnya, hanya dapat terjadi pada mereka yang tidak memiliki kesadaran bahwa hidupnya sedang dalam kekacauan. Sepanjang "setitik kesadaran" tersebut masih ada, maka sekacau apapun hidup yang telah seseorang buat, biasanya akan diikuti dengan usaha (efforts) untuk memperbaiki kekacauan-kekacauan tersebut secara perlahan. Ingat, hanya butuh "setitik" tidak banyak!
Karena bagaimanapun,manusia diberi alarm alami oleh alam semesta [baca; Tuhan] yg memberitahu bahwa hal-hal tertentu sdh mulai melampaui batas. Mungkin itu yg disebut "hati nurani", hati kecil,naluri atau apapun sebutannya.yang tugasnya menyeimbangkan antara otak (akal) dan hati (perasaan).
Kesalahan-kesalahan maupun "kenakalan-kenakalan kecil” dalam hidup diperlukan kehadirannya,karena di fase tertentu, kebijaksanaan tentu tidaklah hadir begitu saja, semudah rintik air yang memang sudah sewajarnya turun di musim penghujan...
Secara filosofi dapat dikatakan, bahwa sepertihalnya sosok seorang yang bijaksana, tentunya sudah melampaui begitu banyak hal (pengalaman) dalam hidupnya. Kesalahan-kesalahan memang seringkali membuat kita menjadi mundur selangkah kebelakang, Tapi cobalah perhatikan; “bukankah sebuah ketapel harus ditarik sejenak ke belakang, agar ia bisa melontar melesat jauh kedepan?”. Begitu pulalah peluang yang bisa diberikan oleh sebuah kesalahan, Terdapat dua kemungkinan yang bisa dihasilkan,
yang pertama; Mereka yang berbuat kesalahan akan terperosok jatuh semakin dalam,
Yang kedua; mereka yang berbuat kesalahan, akan mundur sejenak dan akhirnya melesat jauh kedepan.
Momentum “mundur sejenak” ini adalah momen terbaik yang bisa dimanfaatkan oleh siapapun yang berbuat kesalahan, untuk memberi spasi, mengukur jarak, bersikap jujur, dan yang utama berkontemplasi (merenung). “Sikap”. Adalah kata kunci, yang pada akhirnya menentukan apakah konsekuensi dari pilihan (baik pilihan yang benar ataupun salah) bisa memberi kita pelajaran, bahkan lompatan kedepan.
Karena manusia yang dinamis dan benar-benar hidup, adalah mereka yang banyak berbuat dan sekaligus banyak mengambil keputusan-keputusan yang tidak tepat. Mereka membuat lompatan-lompatan, dan lalu terjatuh. Mereka bangkit untuk berlari, dan lalu tersandung. Namun mereka memutuskan untuk bangkit kembali dan terus menjalani hidup seiring dengan lajunya dentuman energy yang seolah tak pernah habis.
Jika salah, perbaiki!
Jika gagal, coba lagi!
“Tugas manusia hanya satu, berusaha. Karena sesungguhnya, tak ada seorangpun yang luput dari dosa masa lalu, Sehingga dapat direnungkan sebagai catatan dan tanda bahwa manusia itu hanyalah makhluk rentan dan lemah yang msh perlu proses panjang pembelajaran."