Mohon tunggu...
Flutterdust
Flutterdust Mohon Tunggu... Mahasiswa - Muhammad Fa'iq Rusydi - Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Kecil Bergerak

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Terik di Bawah Bendera Matahari

21 April 2023   17:43 Diperbarui: 22 April 2023   01:17 239
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Helai demi helai daun mangga gugur di pelataran rumah. Sepoi angin hilir mudik, bercampur suara senapan yang samar-samar terdengar. Langit pun tak seramai biasanya, burung-burung telah pergi lebih awal, sedangkan matahari bersembunyi dibalik gumpalan-gumpalan awan. “Hayai! Hayai!” seru salah seorang yang membawa pentungan. Suara tanah yang diseok-seok mulai mendekat. Lamat-lamat semakin dekat.

***

Tiga minggu lalu adalah hari bahagia Hartina, meski kondisi negeri sedang tidak karuan, syukur Ia bisa menikah dan melalui prosesinya dengan lancar. Sekedar akad dan hajat kecil-kecilan digelar. Tetangga se-dukuh datang satu-persatu membawa buwuhan. Yang paling mewah membawa ubi dan pisang, yang paling sederhana membawa badan. Maklum, kondisinya menuntut demikian. Hartina dan Slamet pun hanya bisa menyuguhkan rawon dengan air putih yang ditadahi kendi.

“Tina, mau kemana?” tanya Hapsari. “Ini mau nganter makanan ke kak Slamet, Sar,” timpalnya setelah sadar dari lamunan. “Lho.. bukanya belum selapan, kok kamu udah berani keluar aja..” Hapsari bertanya sekaligus mencoba mengingatkan Tina agar jangan keluar rumah sebelum usia pernikahan mencapai selapan atau genap 36 hari. Hartina masih dalam masa pingitan, sebuah masa dalam tradisi pasca menikah yang harus dilaksanakan. Bila tidak dilaksanakan dengan benar, menurut kepercayaan adat, kedua pasangan akan mendapatkan bala.

“Iyah, Sar. Makasih banyak.” Hartina menganguk-anguk setelah diingatkan lagi oleh Hapsari. Makanan yang telah disiapkan dalam rantang diberikan kepada Hapsari, Hartina meminta tolong agar makanan tersebut sekalian diantarkan ke Slamet, karena kebetulan jalan yang dilalui Hapsari searah dengan tempat Slamet bekerja. Segera kemudian diiyakan dan Hartina pun kembali pulang, sambil memohon ampun kepada Tuhan dan berdoa agar tidak terjadi apa-apa.

***

“Met, cepat segera bangun, jangan leha-leha, nanti dipentung, lho, kepalamu.”

“Iyah.. iyah..”

“Iyah iyoh doang kamu ini,” dengus teman Slamet.

“Iyah, beneran,” jawab Slamet sambil mengusap banyak keringat karena teriknya bendera matahari yang berkibar.

Setelah bangun dari istirahat, Slamet dan temanya segera mengambil cangkul, merobek lagi tanah-tanah yang keras dengan keringatnya. Mulanya Ia mengira, bahwa pekerjaan ini sama dengan pekerjaan yang pernah terjadi satu sepertiga abad yang lalu. Sebuah pekerjaan besar yang menghubungkan sisi barat hingga timur pesisir utara Pulau Jawa, bukan lewat laut tetapi lewat darat.

Kondisi yang semakin keras ini telah menjadi rahasia umum. Slamet sekali-kali teringat dan bersyukur bisa menikahi Hartinah atas izin dan perlindungan Tuhan melalui kewenangan Kepala Dukuh. Semakin Ia mengingat semakin besar rasa syukurnya. Ia juga bersyukur mempunyai tenaga yang demikian tangguh dan kesehatan badan yang demikian awet. Sampai-sampai Ia tak mengingat pekerjaan yang dilakukanya ini dilaksanakan dengan amat sangat terpaksa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun