"Bahkan kalau akhirnya kamu punya pasangan yang bener, masalahmu adalah anak. Bayi yang tertukar setahun itu, ga kan terjadi kalau tidak ada pernikahan."
Aku memandang temanku. Bahkan berita bayi tertukar dihubungkannya dengan pernikahan.
"Bayangkan, jika cinta yang telah kau berikan setahun direnggut untuk diberikan cinta yang baru, menyusahkan bukan? begitulah kira-kira jika suatu ketika pasanganmu selingkuh. mau tak mau kamu juga harus menderita atau menerima cinta yang baru dari lelaki lain."
Edyan. Kebenciannya pada pernikahan sudah tak main-main. Bagaimana bisa menyandingkan cinta pada bayi yang tertukar dengan cinta baru saat kelak pasangan selingkuh?
"Jadi aku tak perlu mengguruimu tentang pernikahan kan?"
Dia mengangguk dan tersenyum.
Aku membayangkan perasaanku jika bayiku tertukar dan membayangkan jika suami yang kucintai ini juga ternyata kelak direnggut wanita lain.
Aku memandang temanku yang mengerling.
Sialan, dia tahu aku overthinking. Dia pasti bahagia menjadi wanita yang memutuskan tidak menikah.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H