Kadang saya suka jengkel sama diri sendiri saat ingin menikmati beberapa jenis kopi tapi lambung tidak bersahabat.
Selama ini kalau sedang ingin ngopi buat teman kejar deadline, pilihan saya jatuh pada kopi putih bergambar luwak atau kopi instan dalam botol dengan tulisan 67 karena cuma itu yang nyaman di lambung saya.
Sejujurnya sampai saat ini saya masih melakukan pencarian, adakah jenis kopi tertentu yang bisa saya konsumsi?
Kemudian, saya bisa lebih dekat mengenal kopi saat menghadiri Java Coffee Culture yang digelar oleh Bank Indonesia, bertempat di Hotel Double Tree Surabaya, pada 6 Juli 2024.Â
Dalam rangkaian JCC ini ada sesi Coffee Talk bertema "How to Bring Nusantara Coffee to International Markets", acara ini banyak memberi wawasan bahwa Indonesia punya banyak varian kopi dari berbagai daerah. Kopi-kopi ini cukup di minati di mancanegara dan beberapa jenis kopi tertentu juga sudah menjuarai event kopi di berbagai negara. Bangga rasanya.
Acara Coffee Talk ini menghadirkan narasumber yang keren, ada mas Muhammad Aga seorang Indonesia Barista Champion 2018 dan Roaster.
Berikutnya ada pak Roy Nicholas Mandey yang merupakan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo). Dan juga pak Wildan Mustofa, seorang UMKM kopi dari CV. Frinsa Agrolestari, selaku binaan Bank Indonesia.
Sejatinya, kopi bukan hanya sekedar minuman tapi kopi mempunyai kekuatan untuk mempersatukan manusia. Setiap wilayah punya kopi yang berbeda-beda tergantung kondisi tanahnya, dan lidah kita juga pasti punya taste favorit masing-masing, jadi perlu diingat tidak ada kopi yang tidak enak, hanya pasarnya saja yang berbeda.Â
Kedepannya semoga pelaku UMKM khususnya kopi Indonesia bisa makin melebarkan sayapnya hingga lebih dikenal luas di mancanegara, agar kopi kita makin mendunia.Â