[caption caption="www.shutterstock.com"][/caption]
Diteras, seperti biasa Ara sedang asyik mendengarkan musik lewat headphone. Matanya terpejam menikmati lagu, seraya menyanyikan bait bait cinta dengan suara merdunya.
Dunia Ara gelap gulita,semenjak dia terjatuh dari ranjang bayi ketika berumur 1 tahun. Ia tak dapat lagi melihat wajah Bunda dan ayahnya serta keindahan ciptaan Tuhan. Dulu dia sering bertanya kepada bunda, kenapa dia tak dapat melihat, kenapa Allah tidak berlaku adil dengan memberinya kebutaan. Bunda selalu menghibur Ara, meskipun hatinya selalu menangis.
Segala upaya telah Ayah lakukan untuk mendapatkan kornea baru untuk Ara. Namun..sampai usia Ara 17 Tahun, mereka belum mendapatkan pendonor kornea. Sekarang Ara, tak berharap lagi.
***
Ting tong…..suara bel berbunyi.
Yu Ngatini segera membukakan pintu gerbang. Seorang pemuda tampan berdiri dengan gagah.
“Mari masuk mas Bagas, mba Ara ada di teras” Bagas tersenyum dan langsung menuju kesana.
“Mas Bagas ya” tegur Ara riang.
“Kok tahu”
“Ya tahu dong, baunya khas”
“emang bauku seperti apa”
“prengus….weksssssssssssss”
“Ah…masak sih?” Bagas mengendus-endus bajunya.
Wkwkwkwkwk…..Ara terpingkal-pingkal. Tahu dirinya dikerjain Ara, Bagas tersenyum. Dia suka sekali melihat tawa Ara. Hatinya semakin terpikat pada gadis itu.
“Ara…mas Bagas bawa sesuatu buatmu”
“Asyik, mana dong” sambil menengadahkan tangannya.
“ntar mas kasih, bila Ara bisa menjawab tebak-tebakan mas” Ara cemberut. Matanya mengerjap-ngerjap, disekanya keringat dihidung mungilnya. Bagas memperhatikan semua hal itu seksama. Hatinya makin gelisah.
“Jadi nggak nih main tebak-tebakannya” pertanyaan Ara menyadarkan lamunan Bagas. Dia tertawa terkekeh.
“ Apa bahasa inggrisnya nenek-nenek peyot, naik ojek sambil joget-joget sambalado”
Dahi Ara mengeryit, kemudian senyumnya mengembang.
“Believe it or not” jawabnya singkat dengan penuh kemenangan
“Jiahhh…Ara tahu aja” kata Bagas dan menyerahkan sekotak coklat Hersey kesukaannya. Arapun menerimanya dengan sukacita.
Di depan jendela, bunda memperhatikan tingkah Ara dan bagas. Naluri keibuannya mengatakan, Bagas menyukai Ara lebih dari teman.Begitupun Ara. Meskipun mereka menyimpannya rapat-rapat. Umur Bagas terpaut 2 tahun diatas Ara. Dia anak sahabat ayah Ara yang baru pindah tugas di kota Ara.
Sejak kehadiran Bagas, rumah Ara lebih ceria. Ara banyak tertawa. Ada saja cerita lucu yang dia ceritakan. Tentu saja hal ini membuat Bunda dan Ayah senang. Karena akhirnya Ara memiliki teman. Selama ini, Ara menjalin kesepiannya dengan mendengarkan musik dan berman gitar, karena bunda dan ayahnya sama –sama sibuk bekerja. Hanya Yu Ngatini dan Pak Sabar,sopir pribadi mereka yang menemaninya.
***
Sudah tiga bulan ini, Bagas tak berkunjung ke rumah Ara. Dengan dibantu Yu Ngatini, Ara menelpon Bagas, namun Bagas seperti hilang di telan bumi. Bertanya pada Ayah dan Bundapun,jawabannya tak memuaskan. Ara masygul. Diapun menjadi murung dan tak enak makan. Ada apa ini, kenapa Mas bagas seolah-olah menghindarinya. Adakah salah yang telah ia perbuat? Semua pertanyaan itu ditelannya dalam hati. Hari-hari Ara berlalu dalam keheningan. Bunga-bunga di dada Ara mulai layu. Ada luka yang mengorek hatinya, rasanya begitu pedih.
“Oh..inikah rasanya sakit hati dan aku takut untuk jatuh cinta lagi” Ara menyadari kekurangannya. Hanya orang bodoh saja yang mau berteman dengan gadis buta. Dengan susah payah Ara menghibur dirinya. Dia menangis sesenggukan, berat rasanya melepas seseorang yang telah mencuri hatinya.
“Ara aku kangen kamu” Ara terkejut ketika dua tangan kurus menutup kedua matanya. Tangannya menggapai-gapai. Bau harum Calvin Clein menusuk lembut hidungnya. Dada arah bergemuruh.
“Mas Bagas…engkaukah itu” tanya Ara sangsi
Lelaki itu hanya berdehem.
“Aku kangen kamu Ara, kangen sekali”ucapnya sekali lagi. Ara berusaha menggapai lengan orang itu. Dia diliputi perasaan bimbang. Apakah lelaki itu Bagas, cowok yang selama ini mengisi mimpi-mimpinya,
“ Ara juga kangen mas Bagas” tangis Arapun meledak. Hatinya plong ketika tahu cowok dihadapannya itu adalah Bagas.
“Mas bagas pulang dulu ya, Ara jaga diri baik-baik please” Dibelainya rambut Ara dengan sayang. Airmata tergenang disudut matanya. Masih adakah waktu untuk melihat gadis yang sangat dicintainya itu?
“Jangan pergi mas..” Ara protes. Tanggannya mencengkeram erat lengan Bagas.
“Kalau masih ada waktu, Mas Bagas akan kesini, menengok Ara, membawakan Ara bunga mawar dan coklat Hersey” jawab Bagas lirih.
Ara semakin bingung dengan jawaban Bagas. Hatinya mengatakan ada sesuatu yang terjadi pada Bagas. Namun dia tak tahu apa itu, andaisaja..matanya bekerja sempurna…….
Bagas…melangkah pelan menuju pintu keluar,Langkahnya berat meninggalkan Ara yang masih kebingungan. Sebelum mencapai pintu keluar, dia berbalik ke arah Ara. Dipeluknya Ara dengan kuat seakan tak ingin dilepaskan, membuat Ara gelagapan.
“Ara…aku sayang kamu, bila suatu hari mas Bagas pergi dan tak kembali, jangan bersedih, tetaplah tersenyum” Ara semakin tak mengerti.
Melihat dua anak manusia yang saling mencinta berpelukan, Bunda dan Yu ngatini menangis diam-diam. Mereka tak kuasa melihat Ara dan Bagas. Selama ini,orang-orang dirumah Ara menyembunyikan kondisi kesehatan Bagas pada Ara,karena permintaan Bagas, dia tak ingin Ara bersedih. Bagas selama ini sakit leukimia dan sekarang sudah stadium akhir, hanya keajaiban yang bisa menyembuhkan dia.
***
Disebuah taman Ara melihat lelaki berpakaian putih melambaikan tangannya. Ara hanya diam membisu. Lelaki itu kembali melambaikan tangannya.
“Ara….aku sayang kamu” tiba tiba Ara kangen banget dengan Bagas. Lelaki itupun pergi bersama awan.
“Mas Bagas..mas Bagas…” teriak Ara berulang kali. Bunda yang sedang mengaji, bergegas menuju kamar Ara. Dilihatnya nafas Ara memburu.
“Mimpi buruk lagi ya sayang” Ara mengangguk pelan. Diteguknya air digelas yang dibawa Bunda pelan.
“Bunda…apakah ada sesuatu yang terjadi dengan mas Bagas?” bunda hanya diam membisu. Dia tak kuasa menjawab pertanyaan Ara.
“Kembalilah tidur sayang, supaya badanmu segar untuk perjalanan besok” pinta bunda sambil mematikan lampu dikamar Ara.
Ara berusaha memejamkan mata, namun hatinya tak enak sekali. Hatinya terasa berat, seakan dia kehilangan seseorang yang ia sayangin. Jangan-jangan ah…..diusirnya rasa was-was dihatinya.
***
Di sebuah rumah sakit, Ara berjalan pelan menyusuri jalan setapak taman di samping kamarnya. Ara harus beradaptasi dengan sinar matahari. Seminggu lalu dia melakukan operasi kornea mata. Setelah lelah menunggu sekian lama akhirnya dia mendapatkan donor kornea mata. Ara bahagia, namun disisi lainnya hatinya sedih, karena dia tak bisa membagi kebahagiaan itu dengan Bagas.
Ketika nama itu disebutnya, rasa kangen kembali menyeruak memenuhi dadanya. Dimanakah dirimu mas? Kenapa pula ayah dan bunda termasuk Yu Ngatini dan pak Sabar seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Ara menghela nafasnya dengan panjang.
“ternyata kamu disini sayang, mama mencarimu kemana-mana dari tadi” dilihatnya mama berlari menuju kearahnya.
“Kekamar yuk, ada mamaya bagas menunggumu disana” mendengar ada nama Bagas, jantung Ara serasa berhenti. Dia berdoa…ada berita tentang Bagas. Langkahnya cepat menuju kekamarnya.
Ara terdiam, ketika melihat seorang perempuan paruh baya cantik duduk membawa sebuah kado besar dan seikat bunga mawar merah. Perasaan tak enak menjalar kesemua pembulu darahnya. Dada Ara sesak. Mata mereka bertemu…dan tiba-tiba.
Perempuan itu lemas terkulai..Ara dan Bunda kebingungan, beruntung suster lewat sehingga perempuan tersebut langsung mendapatkan perawatan.
Ara masih bingung dengan semuanya, siapakah perempuan itu?apakah bundanya Bagas?
“Semua ini dari Bagas sayang” kata Bunda tercekat sambil memberikan kado besar dan seikat bunga mawar merah.
Ada sebuah surat diatasnya. Pelan..pelan dibukanya surat bersampul biru. Hati Ara semakin tak karuan.
Dear Ara-ku sayang….
Saat kau membaca surat ini, mungkin aku sudah berada dipelukan Allah. Aku tak dapat melihat senyum manismu yang sering membuatku kangen.
Maafkan aku sayang, selama ini aku berbohong padamu tentang penyakitku. Semua itu kulakukan karena aku tak ingin membuatmu bersedih.
Ara sayang…..
Semenjak aku mengenal dirimu hari hariku jauh lebih berwarna. Setiap melihat canda, tawa serta ketegaranmu membuatku termotivasi untuk terus hidup. Supaya aku bisa bersamamu, berkat dirimu pula aku kuat menjalani rasa sakit ini. Rasa sakit yang sering membuatku tak berdaya.
Aku sayang kamu Ara…sungguh aku sangat mencintaimu…dan aku malu mengungkapkan semua perasaan ini padamu.
Ara sayang….
Aku bahagia sekarang…aku tenang pergi, pintaku…jagalah hadiah dariku. Kuberikan kornea mataku padaku sebagai wujud cintaku padamu.
Jangan menangis Ara…tetaplah tersenyum untukku
Salam sayang
Bagas.
Airmata Ara mengalir deras. Ara tak menyangka dalam rasa sakitnya Bagas masih memikirkannya. Tangisnya semakin pecah ketika dia membuka kado yang Bagas berikan, didalamnya ada banyak coklat hersey, foto –foto mereka berdua dirumah Ara yang diam-diam Yu Ngatini ambil atas perintah Bagas.
“Trimakasih mas….pergilah dengan tenang” ucap Ara lirih.
I wish I could carry your smile in my heart
For times when my life seems so low
It would make me believe what tomorrow could bring
When today doesn't really know, doesn't really know
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI