“Mimpi buruk lagi ya sayang” Ara mengangguk pelan. Diteguknya air digelas yang dibawa Bunda pelan.
“Bunda…apakah ada sesuatu yang terjadi dengan mas Bagas?” bunda hanya diam membisu. Dia tak kuasa menjawab pertanyaan Ara.
“Kembalilah tidur sayang, supaya badanmu segar untuk perjalanan besok” pinta bunda sambil mematikan lampu dikamar Ara.
Ara berusaha memejamkan mata, namun hatinya tak enak sekali. Hatinya terasa berat, seakan dia kehilangan seseorang yang ia sayangin. Jangan-jangan ah…..diusirnya rasa was-was dihatinya.
***
Di sebuah rumah sakit, Ara berjalan pelan menyusuri jalan setapak taman di samping kamarnya. Ara harus beradaptasi dengan sinar matahari. Seminggu lalu dia melakukan operasi kornea mata. Setelah lelah menunggu sekian lama akhirnya dia mendapatkan donor kornea mata. Ara bahagia, namun disisi lainnya hatinya sedih, karena dia tak bisa membagi kebahagiaan itu dengan Bagas.
Ketika nama itu disebutnya, rasa kangen kembali menyeruak memenuhi dadanya. Dimanakah dirimu mas? Kenapa pula ayah dan bunda termasuk Yu Ngatini dan pak Sabar seolah-olah menyembunyikan sesuatu. Ara menghela nafasnya dengan panjang.
“ternyata kamu disini sayang, mama mencarimu kemana-mana dari tadi” dilihatnya mama berlari menuju kearahnya.
“Kekamar yuk, ada mamaya bagas menunggumu disana” mendengar ada nama Bagas, jantung Ara serasa berhenti. Dia berdoa…ada berita tentang Bagas. Langkahnya cepat menuju kekamarnya.
Ara terdiam, ketika melihat seorang perempuan paruh baya cantik duduk membawa sebuah kado besar dan seikat bunga mawar merah. Perasaan tak enak menjalar kesemua pembulu darahnya. Dada Ara sesak. Mata mereka bertemu…dan tiba-tiba.
Perempuan itu lemas terkulai..Ara dan Bunda kebingungan, beruntung suster lewat sehingga perempuan tersebut langsung mendapatkan perawatan.