Pesona Rumah Adat Bagonjong Limo di Perkampungan Minangkabau Kototinggi
Tidak hanya dikenal lewat sejarah sebagai salah satu daerah basis perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) 1948/1949, Nagari (desa,red) Kototinggi, Kecamatan Gunuangomeh, Limapuluh Kota, Sumbar, menyimpan beragam pesona. Seperti apakah?
Atap dengan lima buah bagian ujungnya yang lancip diatas puncak rumah gadang, terlihat semarak di Jorong Lokuang, Nagari Kotitinggi, Kecamatan Gunuangomeh, Limapuluh Kota, ketika Padang Ekspres berkunjung, Minggu(4/1) pagi.
Selain agrowisata dengan ratusan hektar kebun jeruk dan taman alami geopark dengan goanya yang menakjubkan, Nagari Kototinggi Gunuangomeh juga menyimpan pesona budaya yang layak dikemas sebagai cultural tourism.
Rumah adat khas etnis Minangkabau yang populer disebut rumah gadang bagonjong itu, terlihat cukup banyak dan tetap lestari sebagai bukti budaya dan tradisi yang masih melekat pada masyarakatnya.
Kendati urung bertemu Walinagari, Yonggi Fadly, sebagai pemimpin tertinggi dalam struktur pemerintahan nagari, penelusuran perkampungan yang unik di lingkaran perbukitan Gunuangomeh sudah cukup memberikan kesan pesona potensi budaya dan tradisi di Kototinggi.
Bersama, Metrizal, salah seorang mantan pimpinan disalah satu Jorong di Kototinggi itu, setidaknya sudah tergambarsekelumit cerita menarik perkampungan adat Jorong Lokuang.
Kondisinya masih terjaga dengan setumpak perkampungan dihiasi atap gonjong khas rumah gadang. Meski satu dua terlihat mulai reot dimakan usia, sebagian besar masih terawat dan ditempati. Hal ini menjadi bukti tradisi dan budaya Minangkabau masyarakatnya yang tak lekang digerus waktu.
Sejumlah suku atau kelompok masyarakat satu keturunan yang mengambil garis silsilah keturuanan ibu (Matrilinial, red), ditandai dengan rumah gadang yang ada. Sekitar 30 unit rumah gadang seperti disusun rapi dalam sebuah perkampungan dalam sebuah lembah dikelilingi perbukitan itu.
Meski ada kampung seribu rumah gadang atau seribu gonjong di Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat yang lebih awal populer dan dikenal masyarakat luas. Namun pesona terpendam perkampungan adat di Kototinggi tak kalah menariknya.
Betapa tidak, setumpuk perumahan dengan atap rumah didominasi gonjon dan terdiri dari kaum dengan banyak suku yang ada, menyatu dalam satu komplek kecil pemukiman sederhana. Sudah barang tentu akan mengahdirkan suasana kehidupan tradisi hingga saat ini.