Semalam saya baca di salah satu media daring, bahwa Rizieq Shihab melalui Channel Youtube meminta "Umat Islam" (FPI dan Kawan-Kawan) untuk melakukan aksi unjuk rasa dengan tajuk Aksi Bela Nabi Muhammad SAW dalam kaitannya dengan kejadian di Perancis.
"Saya serukan semuanya untuk aksi 211 (2 November) di Jakarta dan aksi 411 (4 November) di Kota Bandung untuk membela Nabi Muhammad SAW yang telah dihinakan, dilecehkan oleh Presiden Prancis, yang dihinakan dilecehkan oleh sebagian masyarakat Prancis, oleh media-media Prancis," kata Rizieq dalam akun YouTube Front TV, Minggu (1/11/20). Seperti dilansir Detik.Com.
Melakukan aksi unjuk rasa apapun memang hak warga negara Indonesia, sebagai bagian dari hak konstitusional kebebasan berpendapat.
Tapi aksi unjuk rasa terus menerus dalam kondisi pandemi Covid-19 seperti ini bukan perbuatan yang bijak.
Apalagi, konon katanya pada saat yang sama, hari ini buruh dan mahasiswa akan melakukan aksi unjuk rasa juga meskipun dengan alasan berbeda.
Buruh dan mahasiswa masih akan menyampaikan rasa kecewanya terhadap pengesahan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja dan Surat Edaran Kementerian Tenaga Kerja tentang Upah Minimum Regional yang tak direkomendasikan untuk dinaikan.
Pihak berwenang memang tak akan melarang aksi unjuk rasa sejauh tak ada kerusuhan dan memberitahukan kegiatan aksi demo itu sebelumnya agar bisa diamankan
Saya kok melihat bagi Front Pembela Islam dan berbagai organisasi afiliasinya, setiap persoalan besar terkait pemerintahan apalagi agama selalu dibumbui dengan aksi unjuk rasa.
Jangan tanya, jika persoalan tersebut berpotensi menghadap-hadapkan antara sebagian masyarakat dengan Pemerintah Jokowi, semangat sekali mereka biasanya.
Tahun ini saja, setiap keriuhan bahkan yang sama sekali tak berhubungan langsung dengan latar belakang kegiatan mereka, tetap ikut aksi unjuk rasa.
Seperti permasalahan UU Ciptaker beberapa waktu lalu, entah paham atau tidak apa itu UU Ciptaker. Tapi sepertinya memahami permasalahan yang diunjuk rasai itu tak penting bagi mereka, yang penting bisa berteriak-teriak menjelek-jelekan pemerintah dan di tengahnya bisa menuntut "Jokowi mundur dari Jabatannya sebagai Presiden."
Bahkan berbagai organisasi buruh diantaranya KSPI yang seharusnya senang ada yang ikut mengunjuk rasai misi mereka dalam menolak UU Ciptaker merasa aneh dan heran, mengapa FPI dan organisasi afiliasinya tersebut ikut berunjuk rasa.
"Kami tidak tahu apa latar belakang kawan-kawan yang aksi hari ini. Kami tidak tahu, sehingga saya tidak bisa memberikan komentar terhadap ketidaktahuan saya," ujar Said Iqbal,seperti dilansir Tribunnews.com, Selasa (13/10/20).
Sebelumnya ketika rencana RUU Haluan Ideologi Pancasila hendak dibahas di Parlemen dan sebagian masyarakat menentangnya karena dianggap akan mengubah konten Pancasila.