Polemik Staf Khusus milenial Presiden sepertinya akan memasuki babak baru, setelah salah satu anggota staf khusus-nya Adamas Belva Syah Devara yang juga merupakan Chief Executive Officer (CEO) Perusahaan Rintisan Ruangguru mengundurkan diri dari jabatan staf khusus milenial Presiden Jokowi.
Kabar ini diungkapkan dirinya melalui surat terbuka yang kini beredar di media sosial. Ia menyebutkan bahwa dirinya sudah menulis surat pengunduran diri yang ditujukan kepada Presiden Jokowi tanggal 17 April 2020 lalu.
"Saya mengambil keputusan yang sangat berat ini, karena saya tidak ingin membuat polemik mengenai asumsi atau persepsi publik terkait posisi saya sebagai Staf Khusus Presiden  menjadi berkepanjangan, dan mengakibatkan konsentrasi Bapak Presiden dan jajaran pemerintah terpecah dalam menghadapi pandemi Covid-19" tulis Belva seperti yang dikutip dari surat terbukanya yang bertanggal 21 April 2020.
Seperti kita ketahui polemik ini bermula dari urusan Kartu Pra Kerja yang melibatkan Ruangguru menjadi mitranya. Ruangguru merupakan perusahaan rintisan yang Belva dirikan dan pimpin hingga saat ini.
Kemitraan yang terjalin antara Pemerintah dalam hal ini Kementerian Kordinator Bidang Perekonomian dengan Ruangguru menurut pengakuan Belva terjadi jauh sebelum dirinya ditunjuk menjadi staf khusus presiden.
Dan ia tak terlibat langsung dalam pengambilan keputusan kemitraan tersebut. Hal ini di konfirmasi oleh Kemenko Perekonomian, seperti yang ia tulis dalam surat terbukanya tersebut.
Namun, berbagai pihak terus menyoroti hal ini karena berpotensi menimbulkan konflik kepentingan, dan meminta Belva untuk mundur dari salah satu jabatannya tersebut
Akhirnya Belva memilih untuk mundur dari jabatan prestisius sebagai staf khusus Presiden. Buat saya keputusan yang diambil oleh anak muda lulusan Harvard University ini patut diacungi jempol.
Ia memiliki integritas untuk lebih memilih mengutamakan kepentingan yang lebih luas. Jarang sekali di Indonesia yang berani mengambil keputusan yang seperti dilakukan Belva.
Bahkan para seniornya lebih memilih menebalkan mukanya dibanding mundur dari jabatannya, padahal tekanan masyarakat untuk mereka lebih keras dari polemik  yang terjadi pada stafsus ini.
Selain Belva sebetulnya ada personil stafsus lain yang menjadi polemik, yakni Andi Taufan Garuda Putra Presiden Direktur dan Pendiri perusahaan fintech Amartha, yang meminta aparat di daerah untuk membantu para sukarelawan dari Amartha dalam memerangi virus corona, melalui surat ber-Kop Sekretariat Kabinet kepada seluruh Camat di Indonesia.