Saya tak bisa menulis puisi, saya tak mampu menyusun kata-kata indah bermakna, seperti teman-teman.
Tapi saya merasakan kesedihan yang sama dengan teman-teman ketika mendengar kawan dan sahabat saya Erin atau saya lebih akrab memanggilnya dengan nama Adel, telah pergi untuk selamanya mendahului kita semua.
Apalah tulisan ini, elegi atau obituari yang jelas bukan puisi. Saya hanya mencoba menuliskan pengalaman saya berinteraksi dengan Adel.
Tak ada sedikitpun pikiran bahwa dirinya saat kita chatting dalam kondisi kesakitan akibat penyakit yang di idapnya, yang kemudian menjadi sebab meninggalnya Adel.
Saya kerapkali disapa opa ama anak kecil yang lucu dan enerjik banget. Beberapa kali kami chatting intens saat ia mengajari saya bagaimana menggunakan fitur di salah satu platform tulis menulis.
Secara langsung saya belum pernah bertemu,tapi saya mengenalnya lewat tulisannya yang berdiksi lincah, chattingannya yang lucu kadang ngeselin juga, but itulah Adel sebuah paket yang menarik.
Sayang seribu sayang... kami tak sempat bisa bertemu secara langsung, Tuhan lebih menyayanginya.. ia dipanggil lebih cepat dari kita semua.
Tinggal sepotong kenangan yang tersisa, semoga semangatnya bisa menginspirasi kita semua.
Buat Erin A.K.a Adel semoga amal ibadahmu diterima di sisi Tuhan..... Amin
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H