Kegiatan berkomunikasi telah menjadi aspek fundamental dalam kehidupan sehari-hari manusia, khususnya dalam kegiatan belajar mengajar. Setiap individu memanfaatkan komunikasi sebagai sarana untuk mencapai berbagai tujuannya. Penelitian yang dilakukan Sumirat (2014) mengungkapkan bahwa aktivitas komunikasi merupakan suatu mekanisme transfer pemikiran atau gagasan antar individu melalui metode tertentu hingga tercapai pemahaman yang sama antara kedua belah pihak.
Keberhasilan proses pembelajaran sangat bergantung pada efektivitas komunikasi yang terjalin di dalamnya. Riset yang dilakukan Liliweri (2011) mengungkapkan bahwa komunikasi memiliki fungsi yang jauh lebih luas dari sekadar pertukaran informasi, yakni sebagai instrumen yang mampu mentransformasi perilaku seseorang. Hal tersebut menjadi krusial mengingat aktivitas pembelajaran merupakan suatu proses interaksi yang melibatkan berbagai komponen, terutama antara pengajar yang berperan sebagai penyampai pesan dan peserta didik sebagai penerima pesan.
Implementasi strategi komunikasi yang tepat menjadi kunci dalam mencapai efektivitas komunikasi pembelajaran. Hasil kajian Cangara (2013) menunjukkan bahwa strategi komunikasi merupakan integrasi optimal dari berbagai komponen komunikasi, mulai dari penyampai pesan, konten yang disampaikan, saluran yang digunakan, hingga dampak yang diharapkan, yang semuanya dirancang untuk mengoptimalkan pencapaian tujuan komunikasi. Sebagai fasilitator pembelajaran, pendidik perlu memiliki pemahaman komprehensif tentang sasaran, komponen, dan potensi kendala dalam proses komunikasi, mengingat keberagaman latar belakang budaya, keluarga, dan pengalaman peserta didik yang dapat mempengaruhi dinamika komunikasi pembelajaran.
Pencapaian komunikasi pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang matang dan sistematis. Studi yang dilakukan Rakhmat (2007) mengidentifikasi bahwa indikator keberhasilan komunikasi dapat dilihat dari tercapainya pemahaman bersama, terciptanya suasana yang menyenangkan, terjadinya perubahan sikap positif, meningkatnya kualitas relasi sosial, dan pada akhirnya menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan.
Dalam upaya menciptakan pembelajaran yang efektif, berbagai pendekatan strategi komunikasi dapat diimplementasikan. Hasil penelitian Effendy (2006) mengklasifikasikan metode komunikasi menjadi tiga kategori utama dalam konteks pembelajaran. Kategori pertama adalah pendekatan informatif yang menekankan pada transfer pengetahuan dan wawasan baru kepada peserta didik. Kategori kedua yaitu pendekatan persuasif yang bertujuan menginisiasi transformasi pola pikir dan tingkah laku peserta didik secara natural tanpa paksaan. Kategori ketiga berupa pendekatan instruktif yang memberikan panduan terstruktur untuk mencapai target pembelajaran yang telah ditetapkan.
Kajian yang dilakukan Pambayun (2012) mengidentifikasi lima elemen kunci yang menentukan kesuksesan komunikasi pembelajaran. Elemen-elemen tersebut terdiri dari pengajar sebagai sumber informasi, peserta didik sebagai penerima informasi, substansi pembelajaran sebagai konten yang ditransmisikan, sarana pembelajaran sebagai jalur transmisi, serta respon pembelajaran sebagai indikator keberhasilan. Peran strategis pengajar dalam merancang dan mentransmisikan materi pembelajaran telah diatur dalam kerangka hukum, sebagaimana tercantum dalam UU Pendidikan No. 14 tahun 2005. Regulasi tersebut menetapkan status pengajar sebagai tenaga profesional dengan tanggung jawab utama meliputi aktivitas mendidik, mengajar, membimbing, hingga mengevaluasi perkembangan peserta didik.
Keefektifan komunikasi dalam pembelajaran dapat diukur melalui lima indikator mencakup:
Pengertian - ditunjukkan dengan kemampuan siswa menerima informasi secara tepat
Kesenangan - terciptanya suasana pembelajaran yang menyenangkan
Pengaruh pada sikap - terjadinya perubahan sikap positif pada siswa
Hubungan sosial yang baik - terjalinnya interaksi positif antara guru dan siswa