Kata Transformasi seolah identik dengan semangat pembaruan dan juga perkembangan secara simultan maupun komprehensif dari sebuah kehidupan manusia dalam skala yang besar adalah Bangsa Indonesia.Â
Kita patut berbangga pada sejarah bangsa dimana Putra terbaik kita, sang pemimpin bangsa kita yaitu Prof. Dr (Ing) Bacharuddin Jusuf Habibie yang saat itu menjabat sebagai Menteri Riset & Teknologi pada  28 tahun lalu berhasil meluncurkan Pesawat buatan IPTN atau Industri Pesawat Terbang Nusantara (sekarang menjadi PT DI/Dirgantara Indonesia) yaitu Pesawat N-250 Gatotkaca di Bandung.Â
Seolah momentum ini terus dikenang dan terus bisa menjadi motivasi bahwa negeri ini memiliki potensi dan harapan untuk bisa maju bersama dengan negara lain.Â
Setelah 28 tahun berlalu, kita telah memahami bahwa Riset dan Teknologi Inovasi Nasional sudah menunjukkan tajinya dari waktu ke waktu. Belum lagi perannya sekarang 'terkesan' menjadi fokus dengan adanya Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) menggantikan LIPI alias Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia bersama beberapa Organisasi Non Kementerian lain yang dahulu dibawah Kemenristek hingga menjadi Badan yang efisien dan tentunya diharapkan bisa powerful dalam mendorong Kebangkitan Teknologi Nasional tersebut.Â
Apalagi kita sama-sama tahu bahwa kita telah memasuki bonus demografi bahkan sudah menyongsong puncaknya. Lantas seberapa besar pengaruhnya?
Ini sebuah refleksi sekaligus diharapkan bisa mendorong adanya reformasi maupun transformasi terhadap manajemen riset teknologi inovasi kita.Â
Seperti kita ketahui, bahwa perhatian Negara pasca Reformasi justru tidak semakin membaik ditandai dengan anggaran riset 2023 wabil khusus yang dikelola oleh Badan Riset Inovasi Nasional (eks Kemenristek dan beberapa Lembaga non Kementerian lain) yang hanya mendapatkan Anggaran sebesar 9,38 Triliun Rupiah saja dimana 6,54 Triliun Rupiah digunakan untuk dana riset inovasi alias teknis pengelolaan riset Nasional.Â
Sangat kecil sekali, dimana pernah dalam suatu diskusi guna memajukan riset Nasional perlu perhatian dari Pemerintah melalui Budget sebuah Negara setara dengan 1 persen dari Produk Domestik Bruto negara tersebut.
Kalau PDB Indonesia kini mencapai sekitar 16.700 Triliun Rupiah maka paling tidak perlu sekitar 167 Triliun Rupiah untuk mengelola riset Nasional menjadi lebih solid.Â
Selayaknya pula Anggaran Pendidikan (Mandatory Spending) Nasional juga bukan hanya mencakup Pendidikan 20 persen dan Kesehatan 10 persen saja.Â
Paling tidak mandatory spending untuk Riset juga perlu dan itu bisa dibagi ke Kementerian/Lembaga. Dimana jika BRIN mendapatkan 9,38 Triliun ditambah dengan tiap-tiap Kementerian/Lembaga belum lagi Daerah yang memiliki Balitbang sebagai Lembaga Riset organik institusi.Â
Dihitung-hitung kurang lebih sekitar 46,76 Triliun atau sekitar 0,27 persen dari PDB dimana masih jauh dari angka 1 persen PDB (apalagi yang dikelola oleh BRIN yang setara 0,08 persen dari PDB).Â
Maka hampir mustahil bahwa teknologi kita jika mengandalkan pada peran negara mampu berjalan dengan maksimal belum lagi dihitung pada dukungan manajemen dimana konteksnya adalah keberpihakan pada sumber daya manusia baik kesejahteraan materi maupun moril yang mendorong sumber daya tersebut mampu berpikir jernih mencipta inovasi yang lebih masif.
Melalui tulisan ini tentu kelak bisa menggugah bahwa masalah atau isu berkaitan dengan riset ini harus bisa diurai dengan bijak melalui proses political will yang matang.Â
Ingat bahwa amanat Kemerdekaan yang selalu didorong oleh para Founding Fathers kita untuk Negeri ini bisa berdiri diatas kaki sendiri. Maka demikian, selayaknya peran negara bisa lebih besar daripada sekedar pembiayaan yang kurang maksimal dan kolaboratif. Intinya hilangkan pula ego sektoral dari masing-masing birokrasi.Â
Selayaknya pengelolaan atau manajemen riset nasional menunjukkan bahwa negeri ini tech-oriented bukan bureaucracy-oriented. Apalagi kini generasi muda telah memulai dan memimpin pertarungan, generasi yang penuh rasionalitas dan kritisme selayaknya mampun dijamin dan disikapi dengan bijaksana tentang keberpihakan pada tantangan yang tidak mudah tersebut. Sekali lagi, ini menjadi pertanda bahwa kita dididik dan terus diingatkan bahwa riset itu bukan main-main.
Selamat Hari Kebangkitan Teknologi Nasional. Tak terasa bertepatan pula dengan Kemerdekaan yang juga sebentar lagi atau tepat 1 minggu dari sekarang.Â
Semoga kemerdekaan itu juga menaungi elemen riset teknologi inovasi nasional agar mampu berdikari dan bisa mengisi rentetan sejarah kemerdekaan yang terus dipupuk dan diperjuangkan hingga sekarang.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI