Mohon tunggu...
Jamalludin Rahmat
Jamalludin Rahmat Mohon Tunggu... Penjahit - HA HU HUM

JuNu_Just Nulis_

Selanjutnya

Tutup

Hobby Pilihan

Sketsa Buku: Filsafat untuk Para Profesional

2 Mei 2020   03:23 Diperbarui: 2 Mei 2020   03:22 290
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kenalilah dirimu_Socrates_

Sebuah buku yang menantang para professional untuk merenungkan sisi kemanusiaan dalam profesi mereka_sinopsis_

Pembuka Kata

Telaahan filosofis menelanjangi anggapan benar yang diterima begitu saja tanpa ke kritisan dan berpikir mendalam. Lain kali ia membuat gelisah dan mengerutkan dahi. Tak banyak yang tahu bahwa telaahan filosofis bertujuan supaya seseorang meninggalkan zona nyaman selama ini yang mengerangkeng diri sehingga menata hidup kembali dengan lebih bijak.

Nah, bagaimana jika filsafat melakukan telaahan filosofis terhadap profesi yang dijalani? Dan apakah itu mungkin? Bukankah selama ini filsafat terlalu sibuk mengurusi yang abstrak dan teoritis?

Sebelum menjadi bidang akademis yang bisa sangat abstrak, filsafat merupakan sebuah dialog dengan kehidupan keseharian yang riil. Sokrates lah yang menurunkan kajian filsafat yang membahas tentang asal usul alam semesta (kosmologi) menjadi membahas tentang manusia dan etika (antroposentris).  

Dialektika dialog yang kita kenal dan sering dilakukan merupakan sumbangsih dari Socrates yang dulu disebut dengan istilah maieutika tekne (seni melahirkan pikiran yang kritis seperti bidan yang bersalin menolong kelahiran seorang bayi).

Ketika telaahan filosofis berkaitan dengan profesi maka ia menyapa para profesional untuk mendiskusikan profesi mereka. Diskusi kritis dan mendalam bahwa kita saling menolong sebagai sesama manusia lewat profesi yang dijalani. Profesi bukan semata alat mata pencarian, juga bukan kendaraan bagi ambisi-ambisi dan kesombongan manusia.

infopmbindonesia.web.id
infopmbindonesia.web.id
Tentang Buku Filsafat Untuk Para Profesional

Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari 10 orang penulis yaitu Agustinus Setyo Wibowo berjudul Platon dan Komitmen Profesi, Epikuros untuk Para Konsultan Diet ditulis oleh B. Herry-Priyono, Franz Magnis Suseno berjudul Hegel tentang Pembantu Rumah Tangga, S.P. Lili Tjahjadi berjudul Feurbach dan Marx untuk Para Agamawan, F. Budi Hardiman berjudul Simmel tentang Perancang Busana dan Pialang Saham, J. Sudarminta berjudul Marcuse versus Perusahaan Iklan, Thomas Hidya Tjaya berjudul Merleu-Ponty untuk Para Perawat Tubuh, Bauman untuk Turis, Peziarah dan Pengembara oleh A. Sudiarja, Tulisan J. Sudarminta tentang Rorty untuk Para Sastrawan, F. Budi Hardiman berjudul Heidegger dan Para Pensiunan. Kesepuluh penulis ini adalah dosen di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta.

Ada dua tujuan mengapa buku ini berjudul "Filsafat untuk Para Profesional" yaitu merenungkan secara mendalam hakikat dari profesi tertentu sekalian menyapa para profesi apa pun. Para penulis juga berharap agar filsafat dapat melampaui tembok-tembok kampus dan memberi manfaat bagi orang banyak.

Illustrated by Pixabay.com
Illustrated by Pixabay.com
Melacak Arti Kata "Profesi"

Profesi yang diemban siapa pun dan bermacam bentuknya merupakan batu bata pembangun sebuah masyarakat. Pun profesi ikut membentuk identitas dan karakter seseorang. Seharusnya juga profesi merupakan pencarian makna hidup,  kebahagiaan dan menjadi pertanda manusia seperti apa yang menyandangnya. Dianggap buruk suatu profesi bukan karena profesi itu tapi lebih kepada orang itu yang berprilaku buruk dan juga belum paham apa itu profesi dan mengapa ia mengemban (komitmen) pada amanah profesi tersebut.

A. Setyo Wibowo mengawali tulisan di dalam buku ini dengan judul "Platon dan Komitmen Profesi." Isi tulisannya melacak akar kata dan arti profesi serta komitmen.

Di kamus besar bahasa Indonesia V offline, kata profesi merupakan kata benda yang berarti bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan dan sebagainya) sedangkan kata sifat profesional berarti bersangkutan dengan profesional, memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya, mengharuskan adanya pembayaran untuk melakukannya (lawan amatir).

Pemaknaan ini menyempitkan arti profesi karena profesi terkait dengan keterampilan teknis yang mana ia mampu menjalankan tugas sebagaimana yang dituntut. Profesional hanya terkait dengan uang. Tidak ada nilai ketuhanan dan kemanusiaan di dalamnya.

Maka perlu merujuk akar kata profesi kepada bahasa lain. Kata "profession" yang ditunjukkan oleh Le Nouveau Petit Robert (Kamus Prancis) menulis bahwa "profession" merujuk kepada kata "pernyataan umum, pernyataaan di depan umum berkenaan dengan kepercayaan, opini, atau tingkah laku tertentu", dan hal ini berkaitan dengan tradisi panjang di kalangan religius kristiani di mana saat mereka "menyatakan kaul-kaulnya" (kaul hidup wadat, taat dan melarat) mereka dikatakan melakukan "profession." Dalam tradisi ini, seorang religius disebut profess bila sudah menyatakan kaulnya secara publik. (halaman 3).

Peluasan makna ini menyatakan bahwa profesi tidak selalu berkaitan dengan bayaran uang atau keterampilan teknis apa pun. Jadi profesi adalah pernyataan di depan umum, saat seseorang menyampaikan opini atau pandangan tertentu. Profesi artinya pernyataan di depan publik, permakluman, sebuah kepercayaan atau janji untuk bersikap secara tertentu dengan orang-orang yang hadir sebagai saksinya.

Tulisan berjudul "Epikuros untuk Para Konsultan Diet" oleh B. Herry-Priyono menjelaskan tentang beberap hal. Pertama, corak konsumsi yang menggejala luas saat ini merupakan sesuatu yang diada-adakan untuk pamer, rakus, congkak dan tamak. Maka bermunculan jiwa-jiwa yang tak punya rasa syukur. Kedua, pola konsumsi menuju kepada "pemuasan terbanyak (maximum)" bukan "mencapai yang terbaik (optimum).

Karenanya bagi para penganut dan pejalan Epicurean kenikmatan sejati supaya bahagia dengan puas melalui kontrol diri, penuh melalui kesederhanaan, nikmat melalui keberanian/memeluk kepedihan dengan ketenangan. Ketiga, salah kaprah diet yang hanya diartikan sebagai pola makan/minum, tetapi diet sebenarnya menyangkut aneka konsumsi yang diperlukan bagi hidup sehat dan bahagia. Karena kata diet berasal dari bahasa Yunani: diaita yang berarti "cara hidup."

F. Budi Hardiman menulis dengan judul "Simmel tentang Perancang Busana dan Pialang Saham." Georg Simmel adalah pemikir (filosof) gaya hidup yang berasal dari Jerman. Pendiri sosiologi modern di abad ke-19 bersama Max Webber dan Emile Durkheim dari Prancis. Namun di kalangan sosiolog, Simmel lebih dikenal sebagai filosof. Persilangan antara sosiologi dan filsafat itulah posisi keilmuan Simmel.

Apakah yang sebenarnya mendasari fenomena uang dan fesyen? Jawabannya adalah manusia. Uang dan fesyen dihasilkan oleh manusia. Jika demikian, hakikat uang dan fesyen harus dicari pada manusia sebagai penciptanya. Inilah pertanyaan yang diajukan oleh F. Budi Hardiman untuk masuk dan memahami pemikiran Simmel tentang perancang busana dan pialang saham di kota atau manusia urban.

Pemikiran Simmel oleh F. Budi Hardiman ada tiga pokok dalam bukunya "The Metropolis and Mental Life."Pertama, kota besar adalah medan kegelisahan dan arena kesan-kesan sementara. Kedua, manusia adalah makhluk pembeda. Ketiga, kota besar mengaktualkan manusia sebagai makhluk pembeda (halaman 84).

Simmel karya bukunya yang terkenal yaitu berjudul Philosophie des Geldes (Filsafat Uang). Buku ini berbicara tentang bagaimana uang dan ekonomi memengaruhi kehidupan mental manusia. Karenanya oleh Simmel, perancang busana dan pialang saham memiliki satu sisi kesamaan yaitu uang.

Simmel menyatakan tentang ciri psikologis uang. Pertama, ciri indepedensi psikologis. Mulanya uang hanyalah alat tukar. Di sini uang hanyalah sarana tapi berubah menjadi tujuan. 

Ketika uang menjadi tujuan maka segala daya upaya dikerahkan untuk memiliki uang sehingga muncul keyakinan dengan memiliki uang kebahagiaan hidup tercapai. Kedua, uang menjadikan segala yang dihargai menurut nilainya menjadi sama. 

Dalam artian semua hal, termasuk orang adalah sama di hadapan uang, yakni dapat dijual beli. Ketiga, pemilik uang memiliki karakter mirip dengan uang itu sendiri. Artinya, sikap pemilik uang dibentuk oleh uang yang dimilikinya.

Penutup Kata

Filsafat diidentikan dengan selalu bertanya, bertanya dan bertanya. Tujuan bertanya filsafat adalah mencari apa sebenarnya dibalik yang tampak. Pertanyaan yang mendalam dari filsafat bukan asal tanya.

Ketika filsafat melakukan tilikan filosofis kepada profesi maka ia ingin menggali makna terdalam dari profesi. Profesi merupakan sarana untuk mengolah hidup yang baik dan menempa keutamaan. Ada jejak religius dalam kata profesi yakni panggilan Tuhan.

Dan profesi tak selalu berbicara tentang untung dan rugi dalam tataran uang. Akankah dengan profesi yang ada pada diri ia menjadi jembatan berbagi di wabah Corona ini. Tidak perlu menghitung kecil atau besarnya karena yang berprofesi merupakan manusia dan memiliki sisi kemanusiaan. Semoga.

Jamal Rahmat

Curup

02.05.2020.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Hobby Selengkapnya
Lihat Hobby Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun