Lewat membaca novellah sebenarnya daya kerja mata, otak, logika, kepekaan, dan sisi paling manusia dalam diri kita tengah diasah_ Kaum Novel_ Setyaningsih dan Widyanuari Eka Putra_
Judul tulisan diatas terinspirasi dari quote instagram penerbit buku "Basa Basi" ketika berselancar untuk mencari kata-kata yang berisikan tentang motivasi membaca buku.
Asyik untuk menguliki kata-kata yang ditulis dan disebar oleh Penerbit dan Toko Buku Basa Basi Store di instagram. Kadangkala quotenya menghentak ke hati, mengusik pikiran dan menertawakan kedirian yang terkungkung supaya lepas.
Novel yang Menubuhkan Peristiwa
Kata novel dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (kbbi.web.id) diartikan dengan karangan prosa (karangan bebas) yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.
Novel yang ditulis sang penulis merupakan tafsiran terhadap apa yang dialami diri sendiri dan orang lain. Novel terbagi dua, fiksi dan non fiksi. Novel fiksi merupakan karya sastra yang berisi cerita rekaan atau didasari dengan fantasi (angan-angan) dan bukan berdasarkan kejadian nyata. Intinya, ia hasil dari imajinasi pengarang. Novel non-fiksi adalah sebaliknya. Â Â
Novel memiliki genre yang beragam seperti novel horor, novel romantis, novel misteri, novel humor, novel petualangan, novel sejarah dan novel kehidupan. Novel kehidupan ini merupakan tambahan dari saya sendiri.
Tafsiran peristiwa bagi sang penulis "novel kehidupan" bertitik tolak dari ragam kehidupan baik suka maupun duka yang dialami manusia. Ada peluh keringat air mata, orang lemah yang ditindas orang kuat dan berkuasa, harapan untuk hidup yang lebih baik melalui perjuangan, kegembiraan yang perlu dirayakan dengan "menelanjangi" diri sendiri bahwa bahagia berdiri diatas duka dan sebaliknya.
Pada novel kehidupan realitas lah yang ditampilkan sebagaimana adanya. Ia mendekatkan sekaligus menjadi "jembatan penghubung" antara pembaca dengan peristiwa yang nyata menurut tafsiran sang penulis. Karenanya sisi manusia yang diasah agar tidak lupa dengan kemanusiaannya.
Pun novel kehidupan dapat menjadi alat kritik yang menghantam manusia yang terlena buai pada kepongahan sikap, penguasa yang zalim, manusia yang lupa pada kemanusiaannya umpama palu godam yang memukul paku sekeras-kerasnya agar terbenam dalam di sebuah papan. Â Â
Sebab itulah di beberapa negara di belahan Eropa, anak-anak sekolah telah diajari untuk membaca karya novel seperti Ernest Hemingway, William Shakespeare, Gabriel Garcia Marquez, Victor Hugo, Nawal El Saadawi.