Bahasa (language) merupakan suatu sistem komunikasi yang digunakan untuk pertukaran informasi oleh makhluk hidup. Di dalam bahasa terdapat Hierarki Linguistik yakni ilmu yang mempelajari bahasa dengan topik pembelajaran meliputi struktur bahasa dan berfokus pada pendeskripsian suara, makna maupun tata bahasa. Hierarki Linguistik ini terbagi atas : Fonem (Phoneme), Morfem (Morpheme), Morfologi (Morphology), dan Sintaksis (Syntax).
Pada awalnya, aspek teori Chomsky yang paling kontroversial adalah gagasannya bahwa komponen yang paling penting dari bahasa bersifat bawaan (nature). Berlawanan dengan hal itu, Skinner menyanggah bahwa bahasa diperoleh melalui pembelajaran (nurture). Sebuah sudut pandang lain adalah adanya hipotesis yang menyatakan bahwa bahasa dan kemasakan biologis berjalan secara beriringan yang saling mempengaruhi satu sama lain. Gagasan yang menyatakan bahwa bahasa kita mempengaruhi persepsidan konseptualitasi realita dikenal dengan hipotesis relativitas – linguistik atau hipotesis Whorf (Whorfian hypothesis).
Studi landasan neurologis bagi bahasa telah dilaksanakan melalui sejumlah cara, termasuk pemeriksaan klinis terhadap pasien – pasien yang mengalami kerusakan otak. Diantara cara – cara pemeriksaan tersebut antara lain :
1.Stimulasi Elektrik
Dalam pemeriksaan dengan pembedahan, para peneliti memberikan aliran listrik bertegangan rendah ke area pemrosesan bahasa yang kemudian dari penelitian tersebut ditemukan bahwa prosedur tersebut mengganggu kemampuan berrbicara. Eksperimen – eksperimen berikutnya yang menggunakan stimuli elektrik ke otak yang dilakukan oleh Ojemann (1991) menyingkapkan sejumlah data yang tak kalah menariknya mengenai otak dan bahasa. Ojemann mendukung penemuan Penfield.
2.Pemindahan PET
Keunggulan PET dibandingkan dengan stimuli elektrik adalah bahwa teknik ini tidak bersifat Invasive (tidak menimbulkan luka pada pasiennya) dan dapat diterapkan pada orang yang sehat. Sebaliknya, stimulasi elektrik umumnya dilaksanakan sebagai suatu eksperimen terhadap pasien – pasien yang menderita suatu gangguan.
Di lain cerita, Menjelang akhir abad ke – 19, saat psikologi eksperimen sedang dikembangkan dalam laboratorium – laboratorium di Jerman, Inggris dan Amerika, seorang peneliti Prancis bernama Emile Javal (1878) menemukan fenomena bahwa dalam proses membac mata manusia tidaklah mengamati huruf demi huruf secara berurutan, melainkan bergerak dalam loncatan – loncatan kecil yang disebut sebagai gerak sakadik (saccades). Membaca sendiri tidak bisa lepas dari apa yang disebut pemahaman dimana pemahaman merupakan suatu proses kognitif untuk mencari tahu makna sesuatu yang tertulis.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H