Gelisahku
Malam ini aku tak buka buku pelajaran..
Bukan pula sibuk mengetik makalah..
Apa lagi mengingat materi tadi pagi..
aku hanya berdiam ditemani secangkir kegelisahan..
Iya aku gelisah..
Gelisah yang dulu dirasakan pendahuluku..
Benar-benar gelisah..
Setidaknya aku tidak galau layaknya pemuda yang diperbudak cintanya..
Cinta yang ia tak tahu akan membawanya kemana..
Ah sudahlah..
Bukan, bukan itu..
Tapi lihatlah sekeliling, si iblis kecil mulai beranjak dewasa..
Tertawa dan menjamur dimana-mana.. di negara ini, di tiap propinsi, di kabupaten, di kecamatan, bahkan di desa-desa..
parahnya terakhir aku mendengar sampai ketua RT..
Lalu mau sembunyi dimana kita?kala pemegang amanat mulai berkhianat? Kala para pengadil tak berani tampil? Atau pelindung yang justru tersandung..
Belaian lembut dunia merangsang mereka, menutup kalbu suci yang sudah mati..
Bicaranya memang teduh, tapi membawa peluh..
Tak peduli jerit tangis di kolong sana, dari pengemis beranak tiga..
Kini malam semakin larut..
dan aku mulai muak..
tak usah saling berkelut mencari badut..
karena kita semua adalah badut..
yang bermain lelucon di dalam sirkus..
menjadi bahan tertawaan penonton sebelah..
hah.. percuma bersorak merdeka !
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H