Tapi jika kemewahan itu justeru diperlihatkan oleh sekolah-sekolah yang langsung dikelola oleh negara, walau kualitas kemewahannya tidak setara dengan sekolah di atas tadi, maka isu kesenjangan dan kecemburuan sosial akan mendorong seorang anak cenderung kurang empati pada anak lain yang nasibnya tidak seberuntung mereka. Pola interaksi sosial mereka hanya terbatas pada entitas dan komunitas tertentu. Â
Kedua, kelompok masyarakat berkantong cukup atau tipis
sebaliknya, ortu yang berkantong lumayan tebal, cukup atau tipis,  tentunya akan  mengirim  anak mereka  ke sekolah-sekolah yang grade-nya sedikit lebih rendah dari yang pertama.Â
Biarlah tak mendapatkan Standar Pelayanan Maksimal  (SPM), asal mendapatkan Standar Pelayanan Minimal (SPM). Ngapain pusing mikirin ongkos, biaya makan, nginap dan sebagainya. Yang penting anak sekolah. Masa bodoh dengan pelayanan Maksimal-minimal. Apa bedanya bagi mereka.  Toh sama-sama SPM juga, kan? Nah loh!
Ketiga, kelompok masyarakat berkantong bocor
Yang lebih miris tentu anak yang ortunya berkantong bocor alias hidupnya serba pas-pasan. Untuk makan hari ini pas-pasan, bayar kontrak rumah pas-pasan, bayar hutang warung juga pas-pasan. Dan pas ditagih iuran komite  ini itu oleh pihak sekolah, eh pas juga uangnya tidak ada. Mau tidak mau piliahnnya tinggal dua saja, mencari pinjaman atau memberi "kartu merah"  pada anak agar berhenti sekolah!
Hal yang menyakitkan memang.  Dan bukan sesuatu hal yang bisa  didramatisir seenaknya. Di berbagai media sudah sering diulas atau diberitakan tentang anak-anak yang putus sekolah karena kalah dalam persaingan. Mereka kalah bukan karena mereka tidak punya "otak", tapi mereka kalah karena isi kantong orang tua mereka tidak seberuntung yang lain. Bocor!
Untuk memutus rantai ketidakadilan itu bukan perkara gampang. Sistem pendidikan kita yang menilai seorang anak hanya berdasarkan "otak dan dompet" sudah mengakar puluhan tahun. Zona nyaman masing-masing pihak seperti sudah ditentukan dan dilegalkan oleh perangkat aturan. Guru berebutan untuk mengajar di sekolah favorit.Â
Menjadi kepala sekolah pun lumayan juga "maharnya" Â untuk oknum-oknum terkait. Bukan rahasia lagi. Bukan rahasia juga kalau semua orang tua melakukan segala cara agar anaknya masuk ke sekolah favorit!
Karenanya, usaha pemerintah yang memberlakukan sistem zonasi, baik guru mau pun siswa di semua sekolah negeri, sudah sepatutnya didukung oleh semua pihak. Kita berharap semua anak Indonesia mendapatkan pelayanan yang sama disegala bidang. Tidak ada perbedaan satu sama lain. Tidak ada beda perlakuan untuk mereka. Percayalah...
Mendapatkan pengajaran terbaik adalah hak anak bangsaÂ
memberi kesempatan yang sama adalah kewajiban negaraÂ
perkara dompet adalah takdir semata!