Mohon tunggu...
Eril Sadewa
Eril Sadewa Mohon Tunggu... Mahasiswa - Analis Sejarah

Selamat datang, tulisan-tulisan disini adalah hasil pembacaan saya atas Sejarah Nusantara yang begitu kaya, semoga bisa menjadi jembatan untuk menyelami kekayaan sejarah negeri kita yang indah ini.

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Konten Khusus Hari Nusantara! Potensi Maritim Nusantara dalam Sejarah

12 Desember 2023   21:02 Diperbarui: 17 April 2024   07:38 109
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sumber:1001Indonesianet.

Berhubung besok adalah Hari Nusantara. Malam ini, saya akan membahas suatu sejarah gemilang yang dimiliki bangsa kita di masa lalu. Dimana pada masa lalu, Indonesia pernah menjadi penguasa lautan yang kehebatannya diakui bangsa-bangsa lain. Penasaran bukan? Silakan simak artikel berikut ini sampai tuntas. Kita akan menguak bagaimana kedigdayaan maritim Nusantara di masa lampau.

Sebelum abad ke-15 M, kapal-kapal dan perahu bercadik telah memainkan peran penting dalam kehidupam bangsa kita, sebagaimana terekam di relief Candi Borobudur.

Salah satu kerajaan maritim pertama di Nusantara adalah Kedatuan Sriwijaya di Sumatra Selatan. Salah satu prasasti peninggalan Kedatuan Sriwijaya yaitu Prasasti Kedukan Bukit menceritakan tentang salah seorang Raja Sriwijaya yang berlayar untuk mencari kesaktian. George Coedes menduga bahwa ada masalah yang menimpa raja tersebut, entah apa masalahnya tidak ada keterangan yang jelas. Lalu sang raja pergi ke suatu tempat untuk mendapatkan kesaktian dan kemudian berhasil bebas dari masalah tersebut dan kembali dengan diiringi pasukan yang besar.

Ini jelas menyiratkan bahwa Kedatuan Sriwijaya kemungkinan besar telah memiliki armada laut yang kuat.  Dalam naskah Tionghoa, Sriwijaya disebut pula sebagai Santfosi dan dalam naskah Arab disebut sebagai Zabag. Menurut Georde Coedes, wilayah Kekuasaan Sriwijaya kemungkinan meliputi Palembang, Bangka, dan Pedalaman Jambi.

Pada abad ke-14 M, Majapahit muncul sebagai kekuatan maritim yang disegani di segenap penjuru Nusantara. Pada masa itu, Majapahit mampu menguasai Jawa serta wilayah-wilayah di barat dan utara hingga mencapai Maluku.

Kapal Majapahit disebut sebagai Kapal Jung yang memiliki tiang layar berkaki 3 dan cadik sebagai penyeimbang. Sebuah konsep perkapalan yang canggih pada masa itu.

Setalah kelemahan Majapahit, di pesisir utara, telah muncul kekuatan Islam baru yang diwakili Kerajaan Demak yang dipimpin oleh Pate Rodim. Pate Rodim merupakan cucu dari salah seorang Penguasa Demak sebelumnya yang mantan budak Gresik dan mengabdi pada Bangsawan Hindu di Demak. Pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa mulai dikuasai oleh Muslim. Tome Pires mencatat bahwasannya mereka bukan benar-benar Orang Jawa. Melainkan mereka adalah keturunan Persia, Keling, dan Daha maupun Orang Arab.

Kerajaan Demak masih menunjukkan kedigdayaannya sebagai kerajaan maritim. Hal itu terlihat dari serangan armada laut Demak terhadap Portugis yang mulai bercokol di Malaka pada tahun 1513 M. Demak juga mengekspansi pelabuhan-pelabuhan penting di Jawa Barat seperti Sunda Kelapa dan Banten. 

Sayangnya, semua kedigdayaan maritim Nusantara perlahan sirna pada abad ke-17 M, Kesultanan Mataram yang berkuasa menggantikan Demak justru tidak tertarik mengembangkan kekuatan maritim dan sibuk melakukan ekspansi di daratan, hal ini memberikan kesempatan bagi VOC Belanda yang kala itu dipimpin Jan Pieterszoon Coen menyerang salah satu pelabuhan penting yaitu Jepara pada 1628 dan 1629 M serta membakar semua kapal Jung yang ada. Hal ini terjadi pada masa pemerintahan Sultan Agung. Penerus Sultan Agung yang bernama Amangkurat I (berkuasa 1647-1677 M) justru mematikan kekuatan maritim dengan menutup semua pelabuhan dan melarang rakyatnya berdagang ke seberang lautan. Akibatnya banyak saudagar Jawa yang pindah ke Banten, Makassar, Malaka-Portugis hingga Aceh, Palembang, dan Banjarmasin. Inilah yang kemudian mematikan kekuatan laut Nusantara.

Saya bisa mengambil kesimpulan, bahwasannya sibuknya Kesultanan Mataram dalam ekspansi ke daratan tanpa memedulikan armada laut justru membawa kehancuran pada dunia maritim Nusantara itu sendiri. Sama seperti saat ini, laut yang tidak dijaga pun bisa menimbulkan malapetaka, maka mari bersama-sama kita jaga laut kita, laut yang sama dengan yang dijaga para leluhur kita di masa lalu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun