Mohon tunggu...
Hanz Endi Pramana
Hanz Endi Pramana Mohon Tunggu... Freelancer - menulis seakan bagian dari masa lalu. akankan punah?

Lulusan Prodi Ilmu Komunikasi, Fisip, Atma Jaya Yogyakarta, mantan wartawan Tribun Pontianak (Kompas Gramedia), Kalimantan Barat. Mantan wartawan yang ingin tetap menulis. Email: endi.djenggoet@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Kopi Me Bagula

25 Juli 2011   03:06 Diperbarui: 26 Juni 2015   03:24 122
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

[caption id="attachment_121408" align="alignright" width="300" caption="Sav menanam pohon di Kilodua, April 2011. Foto: Isodorus Helwin. "][/caption] * buat Savhanna Wilson pirang rambutmu tak hitam seperti rambut kami putih kulitmu bukan sawo matang seperti kulit kami beda bahasamu dan kami tersendat-sendat mencoba berbincang namun tulus niatmu putih hatimu ingin melihat kehidupan kami di desa dari benua sana engkau datang dan ingin merasakan kolot hidup kami yang sesungguhnya tidaklah lagi sungguh kolot heran mata orang-orangku memandang semampai tubuhmu kagum mereka melihat sinar kecantikanmu di tengah kampung setengah terpencil setengah modern "Ada orang Barat, ada orang Barat!" seru mereka mencoba mendekat dan menyapa "How are you, what is your name?" terbata-bata ucapan mereka mencoba berkenalan kau sabahat kulit putih kami, kau ramah dan penuh senyum menerima keheranan mereka kau sahabat kulit putih kami, kau tak ingin berjarak dengan kami orang-orang Dayak kau sahabat kulit putih kami, kau juga ikut mandi di sungai dan mengambil rebung di jalan setapak kau sahabat kulit putih kami, kau heran kami bisa hidup dari kemurahan alam di sekitar rumah kami "Kopi me bagula," itu ucapan yang kau ingat dalam bahasa ibu kami kopi me bagula suguhan yang kau seruput dengan nikmat hangat kafein di pagi hari dua pohon kecil yang kau tanam mulai tumbuh di Kilodua tanah harapan rimba kecil kami pohon kenang-kenangan dari kau sahabat kulit putih kami dari benua sana SEVERIANUS ENDI Note: Savhanna Wilson (24), mahasiswa asal Kanada yang mengunjungi desa kami, Balai Berkuak, sekitar 200 kilometer dari Kota Pontianak. Dia tinggal bersama keluarga kami selama sepekan untuk sedikit merasakan ritme kehidupan orang Dayak, April 2011. Kopi me bagula, bahasa Dayak Kualan yang artinya kopi tanpa gula, minuman favorit Savhanna. Kilodua merupakan lahan milik keluarga kami yang terletak sekitar dua kilometer dari kampung kami.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun