Tak kunjung padam, berbicara mengenai bahasa Arab. Selain bahasa Al-Qur'an, bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan komunikasi sehari hari terutama masyarakat yang berdomisili di daerah Timur Tengah. Dua kategori pembagian bahasa Arab, yaitu Fusha dan 'Ammiyah.Â
Bahasa Arab fusha adalah bahasa Arab yang mengikuti kaidah-kaidah yang ditentukan sebagai bentuk prosa, puisi, dan tulisan-tulisan resmi lainnya. Sedangkan bahasa Arab 'Ammiyah adalah bahasa yang bertentangan dengan kaidah sebagai bahasa keseharian yang digunakan oleh suku-suku tertentu sesuai dengan letak goegrafis mereka.
Bahasa Arab merupakan bahasa yang layak untuk dikaji semua orang. Bukan hanya orang Islam yang menggelutinya bahkan orang nonis (non Islam) di barat dan kaum orientalis juga ingin mempelajari bahasa ini. Banyak statement bahwa orang Islam belajar bahasa Arab hanya untuk memahami dan mendalami agama. Namun realitanya tidak, bahasa Arab memiliki peran yang sangat urgen salah satunya dalam bidang politik.
Flash back kasus  Turki dan Uni Eropa. Kisah ini di sisipkan dalam sebuah film 99 cahaya di langit Eropa. Dimana dalam film tersebut menyingkap tentang peradaban di Eropa. Salah satunya pertikaian antara Turki yang ingin menjadi bagian dari Uni Eropa, namun perserikatan besar tersebut selalu menolaknya. Secara logika, Turki negara yang cukup kaya dan makmur, Uni Eropa tidak akan rugi jika Turki menjadi bagian dari mereka. Dari segi geografis pun, Turki layak tergabung dalam perserikatan tersebut, karena jelas bahwa sebagian besar wilayah Turki terletak di benua Eropa.Â
Namun ternyata semua itu terhalang oleh masalah bahasa. Salah satu faktor pertimbangan Uni Eropa bersih keras menolak Turki adalah bahasa mereka berasal dari akar yang berbeda. Turki yang berada di perbatasan Eropa dan Asia (Timur Tengah) menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa standar sebagai bahasa keseharian meraka. Sedangkan negara-negara di Eropa memiliki satu rumpun bahasa, akar bahasa yang sama, yaitu bahasa latin.Â
Bagi mereka, negara yang menggunakan bahasa Arab identik dengan negara Islam, dan Uni Eropa yang mayoritas anggotanya adalah negara sekuler, menolak dengan keras keterlibatan negara Islam dalam perserikatan mereka.Â
Oleh sebab itu Presiden Turki, Mustafa Kemal, membuat suatu revolusi linguistik. Yaitu dengan melakukan moderenisasi bahasa Turki dan menghapus pengaruh muslim dari negara tersebut baik dengan cara menghapus alfabet Arab dan menggantinya dengan alfabet latin, menghapus pengajaran bahasa Arab di sekolah-sekolah, juga dengan mengganti kata-kata serapan bahasa Arab dengan bahasa Turki atau bahasa latin.
Dapat dikatakan bahwa pada masa itu bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat lemah. Setelah kepempinan Mustafa Kemal, bahasa Arab bangkit dari keterpurukan. Kerajaan Turki Usmani mampu membawa  kedudukan bahasa Arab menjadi semakin kuat.Â
Penyebaran bahasa Arab semakin membumi dan pembelajar bahasa Arab semakin berjibun. Tentu ini layak untuk diperhatikan bagi semua khalayak supaya tetap eksis mempelajari bahasa Arab agar tidak tertindas oleh kekuasaan politik. Oleh karena itu dapat dikonklusikan bahwa bahasa Arab mempunyai peranan yang tidak dapat dielakkan lagi dalam kanca nasional maupun internasional.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI