Mohon tunggu...
M. Wahyuni Nafis
M. Wahyuni Nafis Mohon Tunggu... -

Ketua Nurcholish Madjid Society

Selanjutnya

Tutup

Politik

Tulisan Rudi Suteja "Pondok Pesantren Terbesar Se Jawa Barat & Banten Terlihat Dukung Ahok" adalah Fitnah

4 April 2017   13:31 Diperbarui: 5 April 2017   00:30 1469
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

 

Tulisan Rudi Suteja di www.Kompasiana.com dengan judul “Pondok Pesantren Terbesar Se Jawa Barat & Banten Terlihat Dukung Ahok” adalah jelas-jelas fitnah. Hanya karena adanya foto saya yang bersebelahan dengan Ahok, Rudi dengan sembarangan menafsirkan saya seolah mewakili Pesantren Daar el-Qolam almamater saya, juga seolah saya mendukung Ahok. Jelas kesimpulan tersebut sangat keliru.

Saya mengetahui adanya berita tentang hal tersebut di atas pada Jumat sore, 31 Maret 2017 dari seorang Ustadz Pesantren Daar el-Qolam. Tulisan Rudi Suteja di atas jelas mengundang banyak kritik, bahkan membangkitkan kemarahan keluarga besar Pondok Pesantren Daar el-Qolam beserta para alumninya yang tersebar di seluruh Indonesia. Imbas-buruk dari fitnah tersebut tidak terelakan menimpa diri saya secara bertubi-tubi. Untungnya Pengasuh Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Kiai Ahmad Syahiduddin bersikap sangat bijak. Saat saya mendatanginya, lalu meminta maaf atas fitnah tersebut, beliau dengan tenang mengatakan, “Ya saya tahu itu fitnah. Ente jawab saja bahwa tulisan tersebut fitnah. Ke depan ente harus hati-hati, karena kita ini sering dimanfaatkan orang lain”.

Perlu saya jelaskan dalam klarifikasi ini, bahwa adanya foto saya bersebelahan dengan Ahok adalah terjadi dalam suatu acara kunjungan Ahok ke Nurcholish Madjid Society (NCMS) yang bertempat di rumah Ibu Omi Komaria (istri alm. Nurcholish Madjid, yang biasa disebut Cak Nur) di Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Acara tersebut pada Kamis, 23 Maret 2017. Saya bersama Ibu Omi adalah tuan rumah (sahibul-bayt). Dalam sambutan saya selaku ketua NCMS, saya jelaskan bahwa NCMS adalah sebuah yayasan yang merawat, mengkaji dan mengembangkan ide-ide keislaman Cak Nur. Bagi Cak Nur, nilai-nilai keislaman itu terintegrasi dengan nilai-nilai politik, kemoderenan dan kemanusiaan. 

Secara politik, nilai keislaman tersebut terkandung dalam Piagam Madinah yang dikonsep oleh Nabi sebagai common platforms atau common denominators atau common words yang dalam al-Qur’an disebut kalimatun sawa’. Piagama Madinah oleh Nabi digunakan sebagai titik-temu bagi heterogenitas dan pluralitas suku-suku dan agama-agama yang hidup di Madinah. Menurut Cak Nur, sepadan dengan Piagam Madinah tersebut, di Indonesia adalah Pancasila. Maka dengan penjelasan di atas, Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan universal, keterbukan, pluralisme, demokrasi dan pemilihan pemimpin secara jujur, adil dan tanpa diskriminasi bagi seluruh warga Negara.

Di acara tersebut Ibu Omi, selaku Ketua Pembina NCMS dan Yudi Latif, selaku anggota Pembina NCMS, juga memberikan beberapa penjelasan mengenai prinsip-prinsip berdemokrasi,  Di akhir  bertamu Ahok ke NCMS, Ibu Omi memberikan bingkisan sebuah buku Ensiklopedi Nurcholish Madjid kepada Ahok. Dalam proses pemberian bingkisan tersebut, saya menyampaikan suatu penjelasan bahwa dengan pemberian buku Ensiklopedi Cak Nur tersebut berarti NCMS menitipkan nilai-nilai yang selama ini diperjuangkan oleh Cak Nur kepada Ahok.

Jadi perlu ditegaskan, bahwa saya yang bertindak selaku ketua NCMS dalam acara Ahok bertamu ke NCMS tersebut samasekali tidak berurusan dengan mendukung atau tidak mendukung Ahok. Juga samasekali tidak mewakili Pondok Pesantren Daar el-Qolam almamater saya. Kunjungan tersebut, bagi saya, benar-benar hanya bersifat silaturrahim. Bahkan Ahok juga menyampaikan di awal acara, “Seharusnya saya tidak pakai baju kotak-kotak nih. Tapi karena langsung dari suatu acara bersama timses saya, saya tidak keburu ganti baju.”

Mengenai Rudi Suteja mengutip wawancara saya di Suara.com seusai diskusi di D Hotel pada Rabu, 29 Maret 2017, yang kemudian wawancara tersebut disimpulkan bahwa saya mendukung Ahok, adalah juga keliru. Wartawan tersebut bertanya kepada saya seusai seminar soal kesaksian dua kiai NU, yaitu Kiai Masdar Farid Mas’udi dan Kiai Ishomuddin. Dua kiai tersebut berkesimpulan bahwa Ahok tidak termasuk penista agama berkenaan dengan surat al-Maidah 51 yang sudah terkenal itu. Saya katakan bahwa tentu dua kiai NU tersebut mempunyai referensi yang kuat. Dan tentu juga mempunyai pengaruh yang strategis di masyarakat. Dalam pandangan saya, secara substansial dalam ranah pengetahuan, tentu setuju saya dengan dua kiai NU tersebut.

Di sini perlu saya jelaskan posisi saya, yaitu bahwa dalam pandangan saya, perbedaan beberapa orang dalam memandang Ahok sebagai penista agama masuk dalam wilayah pengetahuan dan tafsir yang sangat beragam. Karena itu, ia tidak berurusan dengan sesat atau tidak sesat. Nah, pandangan dua kiai NU yang memberi kesaksian bahwa Ahok tidak termasuk ke dalam kelompok penista agama, secara substansial saya setuju. Setuju dengan logika yang mendasari pandangannya. Dan di sini lagi-lagi saya tidak berurusan dengan mendukung atau tidak mendukung Ahok.

Dalam pandangan saya, para hakim yang menangani Ahok dalam hal tuduhan sebagai penista agama, pasti akan mempertimbangkan aspek kemaslahatan dalam memutuskan vonis. Hukum diciptakan untuk menegakkan kemaslahatan masyarakat. Karena itu, efek keputusan suatu masalah yang dinilai akan merusak kemaslahatan juga pasti menjadi pertimbangan utama dari setiap keputusan vonis pengadilan.  Ini tidak berarti pengadilan tidak menghiraukan materinya yang salah atau benar. Tapi pertimbangan bisa diambil berdasarkan aspek sosial yang lebih tinggi, yang menjadi tujuan dibuatnya suatu hukum, yaitu kemaslahatan masyarakat. Dengan demikian, sangat mungkin dengan mempertimbangkan kemaslahatan yang saya jelaskan di atas, Ahok akan terkena vonis bersalah.

Demikianlah sekilas penjelasan yang bisa saya tuliskan. Semoga dengan tulisan ini fitnah yang disampaikan oleh Rudi Suteja, terutama berkaitan dengan nama besar Pondok Pesantren Daar el-Qolam, almamater saya tercinta, terjawab. Saya atas nama pribadi memohon maaf atas semua kejadian ini, terutama permohonan maaf sebesar-besarnya kepada Pengasuh Pondok Pesantren Daar el-Qolam, Kiai Ahmad Syahiduddin dan keluarga besar Pondok Pesantren Daar el-Qolam. Juga kepada seluruh alumni Pondok Pesantren Daar el-Qolam, saya juga minta maaf. Dan saya berharap, polemik soal fitnah ini bisa diselesaikan sampai di sini.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun