Saya sangat takjub dengan perubahan yang terjadi pada Cawapres nomor dua, Sandiaga Uno beberapa hari setelah pelaksanaan pemilu. Dari seorang pria kekanakan pada masa kampanye, lalu berubah dewasa setelah pencoblosan.
Kita tentu masih ingat tingkah laku Sandi sewaktu sebelum dan pada masa kampanye. Ia seringkali melakukan hal konyol seperti meletakkan rangkaian petai di kepalanya. Betapa banyak netizen yang menertawakan dia.
Namun perubahan drastis terjadi ketika kubu Paslon 02, kalah dalam Quick count. Tetiba Sandi menderita sakit cegukan yang sangat sulit disembuhkan. Ia pun tidak tampil mendampingi Prabowo yang mengklaim kemenangan.
Wajah Sandi pun tidak seceria dahulu, tampak sedih dan prihatin meski ia berusaha menutupi hal itu. Apalagi tim BPN juga seakan tak mau ada orang yang mengatakan bahwa Sandi tidak sepaham dengan Prabowo.
Berikutnya, Sandi juga tampil sekali bersama Prabowo. Raut wajahnya juga belum berubah, masih murung.
Berbagai dugaan bermunculan. Satu hal yang menarik, ia ingin bertemu dengan KH Ma'ruf Amin, Cawapres nomor satu. Sepertinya ia ingin berdiskusi tentang berbagai hal sesama cawapres dan juga karena Ma'ruf Amin adalah seorang ulama.
Entah apa yang terjadi dengan Sandi. Mungkin ia mengalami sesuatu yang membuat dia tersadar akan apa yang terjadi sesungguhnya.
Beberapa pernyataan dia yang terakhir memperlihatkan bahwa dia menjadi orang yang bijaksana. Jadi seperti orang yang'dijedotkan' ke tembok, ia dipaksa sadar dan mengerti apa yang ada di hadapannya.
Sandiaga Uno sekarang berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan. Ini justru kebalikannya dari Prabowo yang masih ngotot mempertahankan kemenangan versi BPN.
Sandi, mengikuti jejak SBY untuk menunggu hasil perhitungan dari KPU. Ia tidak ingin melakukan sesuatu yang melanggar konstitusi.
Bahkan Sandi menegaskan bahwa jika pendukungnya berani mengatakan ada kecurangan, harus ada bukti. Sandi tidak ingin tuduhan kecurangan itu hanya karena 'katanya' orang lain tanpa data dan fakta.