Ibu, garis halus di sudut matamu, bolehkah aku petik?
Kan kujadikan ia pemantik
Tuk terangi hari-hariku yang kabut
Ah, Ibu
Kurindu cahaya itu, yang menguar dari kamar beraroma wangi perdu
Cahaya yang kaujalin menjadi rangkaian doa-doa
Yang kautiup hingga batas langit paling purna
"Anakku. Tidurlah. Malaikat siap menjagamu."
(Belakangan kusadari bahwa malaikat itu adalah engkau sendiri)Â
Ibu, bisakah kaujatuhkan sehelai saja bulu alismu yang hitam legam?
Kan kujadikan ia mantra untuk mengusir pekat malam
Agar rasa rindu dalam dada ini terobati
Agar hati yang 'tlah kalah (oleh cinta), tak malu lagi mengakui
Oh, Ibu
Kapan lagi bisa kulihat cahaya dari kamar sederhana itu?
Cahaya yang tak lelah mengantar mimpi bocah hingga sampai pada titik realita
***
Malang, 11 November 2023
Lilik Faimah Azzahra
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI