Dan dengarlah ia, Ranu. Anak gadisku mulai bercerita tentang sesuatu yang membuatku diam seribu bahasa.
***
Malam itu rombongan kami beristirahat di sekitar Danau Lembah Senduro, danau yang berada pada ketinggian 2100 meter dari permukaan air laut. Sebelum esok hari harus melanjutkan pendakian menuju ke puncak Gunung Semeru.
Entah mengapa, suhu udara di sekitar danau mendadak berubah ekstrim. Dari angka 10 turun drastis menjadi minus 4 derajat celcius. Membuat tubuh kami nyaris membeku. Jaket dan topi tebal sama sekali tidak mampu membantu. Beberapa teman bahkan mengalami hipotermia dan terpaksa dilarikan ke posko terdekat untuk mendapatkan perawatan medis.
Terbatasnya jumlah relawan tentu saja membuat kami---yang berjumlah puluhan orang, harus sabar menunggu giliran dievakuasi. Melihat aku masih bisa bergerak lincah dan mendesis-desis, mereka memutuskan menolongku di urutan paling akhir.
Satu persatu teman-temanku dipapah naik ke atas tempat di mana posko terdekat bisa dijangkau. Sementara aku meringkuk di dekat api unggun yang nyalanya sudah mulai meredup.
Udara dingin kian menggigit. Tangan dan kakiku sudah sulit digerakkan. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali memeluk sebotol air panas yang ditinggalkan oleh salah seorang relawan untuk menghangatkan perut yang mulai mengejang.
Tapi keadaan itu tidak bertahan lama. Air di dalam botol perlahan-lahan mulai mendingin. Sementara pertolongan yang kutunggu tidak juga kunjung datang.
Sampai kemudian, entah darimana datangnya, seorang laki-laki berambut gondrong, berwajah coklat kemerahan---aku bisa melihatnya dari pantulan cahaya rembulan, menggamit pundakku. Ia menyodorkan secangkir minuman berbau harum.
"Minumlah. Wedang jahe bercampur batang sereh ini akan menghangatkan perutmu," ia berkata lirih. Aku menyambut gembira. Kupikir ia adalah salah seorang relawan yang ditugaskan menjemputku.
"Terima kasih," tanganku yang beku terulur gemetar. Tubuhku masih menggigil dan bibirku pun belum bisa berhenti mendesis seperti seekor ular.