Saya ingin sekali menjahit hati Ibu. Yang lama terkoyak oleh sengkarut waktu. Dengan desir ombak di lautan. Atau sentuhan lembut angin yang berhembus dari arah selatan. Agar Ibu tetap tersenyum menghadapi carut marut dunia. Meski Ibu tidak pernah meminta. Apalagi mengiba-iba tentang betapa pedih dan sakitnya rasa.
Saya ingin sekali menjahit hati Ibu. Dengan embun pagi yang menyejukkan. Lalu menambalnya perlahan menggunakan lidah matahari. Agar Ibu bisa tertawa ceria lagi. Seperti dulu. Saat pertama kali ia menjemput kelahiran setiap generasi.
Saya memang ingin sekali menjahit hati Ibu. Tapi tak jua kesampaian. Sebab hati Ibu telah tertimbun rerimbun daun-daun. Sebab saya sudah lama melupakan. Bahwa saya pernah tinggal dan terlahir dari rahim seorang Ibu. Bernama Pertiwi. Yang darinya saya mengerti. Bagaimana semestinya hidup saling menghargai dan mencintai.
Mungkin sebaiknya saya menjahit dulu hati sendiri. Yang berkali terlubangi. Oleh amunisi iri dan bertumpuk rasa dengki.
***
Malang, 01 November 2019
Lilik Fatimah Azzahra
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI