Semalam aku dan rindu bertarung sengit. Disaksikan oleh gelap gulita langit. Aku merentang kelewang. Sementara rindu mengayun-ayunkan pedang.Â
Aku berhasil melukai rindu. Mengoyak tubuhnya hingga berdarah-darah. Tapi rindu sungguh luar biasa. Ia tetap berdiri dengan amat gagah. Sembari mengumbar senyum sebegitu jumawa.
Setelahnya. Rindu beberapa kali mendaratkan serangan. Pedangnya ganas merajam kulit, daging hingga tulang belulang. Sakit? Tentu saja! Tapi aku tak ingin menyerah kalah. Aku harus tetap bertahan. Pertarungan sengit malam ini mesti terus dilanjutkan.
Langit yang bertindak sebagai wasit. Tampaknya mulai kewalahan. Ia tak lagi meniup peluit. Melainkan ribut menjerit-jerit. Suaranya parau memekakkan seisi alam. Dengan harapan mampu menjadi peredam. Antara aku dan rindu agar segera menyudahi perkelahian.
Tepat di penghujung malam, aku dan rindu mulai kelelahan. Napas kami tersengal. Kelewang terlepas dari tangan. Pedang terpental dari genggaman. Aku dan rindu ambruk bersamaan.
Sebelum pingsan aku dan rindu saling mengingatkan. Jangan lupa, esok malam pertarungan sengit ini mesti kita lanjutkan. Sekarang, mari kita sejenak berpelukan.
***
Malang, 10 Oktober 2018
Lilik Fatimah Azzahra
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI