"Lima bulan lebih, Nyai."
"Ngidam apa kau selama mengandung?" ia bertanya lagi.
Aku menggeleng seraya tersenyum.
"Saya tidak  ngidam apa-apa..."
"Ah, masa?" kali ini suara Nyai Lurah agak meninggi. Seolah tidak percaya dengan pengakuanku. "Di mana-mana, Ibu hamil pasti mengalami apa yang disebut ngidam, Ir," lanjut Nyai cantik itu seraya menepuk pundakku.
***
Seperti rencanaku semula, sepulang dari rumah Nyai Lurah aku menyempatkan diri mampir ke rumah kerabat yang tinggal di desa seberang. Aku pulang ketika hari sudah gelap.Â
Di rumah kulihat Rusli masih juga belum beranjak dari kursinya, menyeleksi naskah-naskah yang hendak dikirim.
"Hari ini aku menerima upah cuci lumayan banyak, Rus. Bisa untuk membeli sebuah daster. Jadi tidak usah menunggu honor cerpenmu cair," ujarku hati-hati. Aku khawatir suamiku itu  tersinggung dengan ucapanku.
"Kau tabung saja uangmu, Ir. Aku juga baru saja menerima rezeki," Rusli berdiri. Menggamit pundakku dan mengelus lembut perutku yang bergerak-gerak. Tentu saja aku ikut gembira kalau benar Rusli telah mendapat rezeki. Aku tidak perlu bertanya macam-macam. Aku cukup berpikir, bisa jadi honor menulisnya sudah dikirim.
Dan malam itu juga, ia mengantarku ke pasar terdekat.