Sebenarnya aku sudah lelah.
Menelusuri jalan panjang ini. Tiap malam. Untuk pulang yang sengsara. Untuk pulang yang tiada arti. Untuk pulang dalam panasnya neraka.
Tapi aku akan kemana.
Pulangku untuk tanggung jawab. Pulangku bukan untuk menghambat langkahmu. Aku telah merelakan dirimu pergi. Serumah tapi hidup sendiri sendiri.
Ayo buka lembar baru.
Seharusnya kau bikin ridho diriku. Maka aku akan ikhlas mengabulkan permintaanmu. Segera.
Namun aneh. Kamu memusuhiku. Kamu membuat aku malas melangkah. Seolah aku yang paling laknat. Maha bejat yang kamu adili. Demi dendam kesumat yang membuatmu sorak. Gembira ria melihat aku terseok Seok sengsara. Tapi itu salah besar. Karena ridhoku, menjawab permohonanmu.Â
Kenapa tak kamu rayu aku agar aku mau mengabulkannya. Egoismu menutup logika warasmu. Dendammu menutup mata hatimu. Biar aku kapok. Sengsara. Sadari, ini bumerang. Yang akan kembali menghantam keponggahanmu. Rugi karena ini akan semakin lama dan tertunda. Kenapa?
Jalan panjang suatu malam.
Terpaksa ini pilihanku. Buat apa ngoyo jika kamu tak bisa hargai. Kan kubiarkan saja kondisi ini. Biar puas dirimu. Ayo kuat kuatan. Toh ya rugi dirimu. Sia sia waktumu.Â
Mau jadi apa dirimu. Aku mengikhlaskanmu, tapi kamu dendam padaku. Itu bukan cara mengambil hatiku. Tapi cara menghambat keperluanmu.Â