"Ketika Kamu Bicara, Kata Katamu Hanya bergaung ke seberang ruangan atau sepanjang Koridor. Tapi ketika Menulis, Kata Katamu bergaung sepanjang Zaman" - Bud Gardner
Apa yang sedang terlintas dalam benak dan pikiran, direnung sejenak dan seiring bergulirnya waktu, banyak ide idemu itu akhirnya pupus. Mungkin ide idemu itu adalah inspirasi penting bagi diri dan orang lain.Â
Mungkin idemu itu adalah "ide briliant" namun karena tidak pernah kamu tulis, ide ide itu akan hilang. ide adalah inspirasi menulis. Banyak orang merasa tidak punya ide untuk menulis. Terlalu banyak pertimbangan untuk memulai menulis.Â
Jika Kamu menjawabnya dengan rumus "Banyak Alasan" maka kamu dalam proses menipu diri. Menutup potensimu sendiri. Membunuh bakat yang terpendam dalam dirimu.
Contoh adalah Abadinya Pemikiran Kartini
Kartini memiliki pemikiran sangat maju dibandingkan perempuan-perempuan  pada zamannya. Kemajuan berpikir Kartini tak dapat dilepaskan dari  kebiasaannya menulis, dan tentu saja, membaca. Hingga sekarang kita masih bisa menelusuri ide dan pemikiran dari Kartini.
Tulisan tulisan beliau adalah "gudang Ide" bagi mereka yang mau membaca hingga sekarang. Apakah dijaman Kartini menulis sudah semudah sekarang? Apa Kartini sudah mengenal tehnologi email dalam mengirim surat suratnya?
Dihadapan Kartini kita harus malu, karena dihadapan kita ada dukungan tehnologi super canggih yang memudahkan kita menulis, tapi kenyataannya apa? kita tidak bisa menulis apapun dengan rumus" banyak alasan". wow, keren ya anak jaman Now?
Menulis itu perlu berlatih
"Tulisanku jelek." demikian jawaban pertama yang kita dengar ketika seseorang diajak menulis. Menulis diera sekarang lebih mudah dibanding era sebelum boomingnya  internet. Adalah aneh dan sangat memalukan, ketika sudah diberi fasilitas tehnologi super canggih, masih saja ada alasan"tidak bisa menulis" Why?
Penyakit malas, banyak alasan dan rasa khawatir yang berlebihan adalah tiket yang membuat kamu tidak pernah maju. Membaca dan menulis adalah sebuah kebiasaan di negara maju.Â