IJAZAH VS IJAB SYAH
Usai sudah angkatan Tahun Pelajaran 2019 /2020. Khususnya bagi pelajar di tingkat pendidikan Menengah Atas. Ada siswa yang mempersiapkan masadepannya dengan melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Mulai dari mengikuti berbagai jalur misalnya SNMPTN, SPAN, PMDK atau PMDP.
Kebetulan saya juga masuk dalam team jalur tersebut. Mulai dari persiapan berkas sertifikat, Raport, Surat Keterangan Tidak mampu, pas photo, dlsb. Semua data di scan lalu di upload berdasarkan juknis yang sudah ditentukan oleh masing - masing program. Tentu, hal ini cukup melelahkan. Walaupun demikian hal tersebut. terbagi menjadi beberapa team. Jadi, kerjasama team yang di utamakan. Akhirnya kerja keras membuahkan hasil selama kurang lebih dua bulan bergelut dan fokus demi masa depan anak-anak.
Alhamdulillah program SNMPTN Yang diterima ada 8 siswa. SPAN 36 Siswa dan Poltekes Negeri ada 2 siswi. Ada sebuah kepuasan batin ketika saya dan team. Menghantarkan anak-anak ke pintu gerbang masa depan. Maklum, wong deso kabeh kata bahasa jawanya. Meskipun demikian pemikiran siswa dan orangtua sudah berubah seiring waktu dan dinamika. Dari tahun ke tahun ada peningkatan untk masuk keperguruan tinggi Negeri. walaupun saya dan team sebagai mediator dan fasilitator sifatnya.
Itu menjadi "catatan penting bagi perkembangan ",Sekolah kami. Â Namun, ada juga yang mengeliti bagi saya selaku guru dan Wali kelas XII. khususnya di angkatan Corrona ini. Sehingga siswa dan siswi lulus tanpa UN yang diakibatkan merambahnya wabah Covid - 19 ini hingga kedesa-desa.
Pemikiran yang Modern VS ala sederhana Beberapa siswa mempersiapkan masa depan mereka dengan melanjutkan Pendidikan tinggi dengan orintasi keahlian, perubahan Paradigma, dunia kerja, ijazah serta kehidupan yang lebih layak dan mapan.
Sementara ada beberpa kelompok siswa yang berpikir. Endak usah neko-neko pak! Kik bebai paling ngajong pak.. Ya walaupun hanya sekedar celotehan saja. Namun, buktinya memang benar adanya baik siswa maupun siswi. Setelah tamat SMA langsung ijab syah.
Ya begitulah interaksi dan komunikasi antar siswa dan walikelasnya beberpa moment saat jam KBM sebelum corrona melanda dunia.
Masih, dalam celotehan siswa dan walikelas
walikelas : " Ehh.. Kik geluk ngajong udi api sai dikiji ko.. Api lagi bebai.. Pira hergani bawang sekilo?, pira hergani cabi, api gulai jemoh. Kadu, wat kudo sanini belanja jemoh untuk sanak".Â
Jika diartikan : "emm jika cepat menikah itu. Apa yang dibicarakan?. Apalagi ibu-ibu. Berapa harga bawang satu kg?, berapa harganya cabe, besok sayur apa. Lalu, apa ada jajanan untuk anak sekolah besok".