Hehe. Lagi heboh soal pilkada langsung vs pilkada tidak langsung  ya. Dengar-dengar, pilkada langsung yang menang. Saya ikut nimbrung ah, meski secuil tulisan ini sepertinya gak bakal punya impact apa-apa. Gapapa, yang penting pencitraan dulu. Biar dianggap vokal. Biar dianggap produktif menulis.
Saya sendirinya sebenarnya masih galau dengan pilkada langsung ini. Kok ya bisa, suara saya yang awam-jadah ini punya kekuatan seimbang-setara dengan suara seorang cerdik-cendikia. Padahal saya ini apalah. Melek politik tidak, peduli dunia perpolitikan tidak terlalu juga. Saya ikut milih itu cuma pengen nge-voodoo caleg/calkada/capres yang (secara subjektif saya anggap) mukanya nyebelin saja, lalu celup jari di tinta untuk  kemudian unggah foto di media sosial dengan caption, "Hey! Saya sudah memilih. Bagaimana dengan kamu? Peduli dikit dong, sama bangsa sendiri!"
Yah intinya, tidak penting lah suara saya ini. Bagaikan secuil upil di tengah gurun pasir tandus. Tak bermakna dan tiada manfaatnya. Tapi ya, itu. Jumlah saya yang bloon ini banyak lho. Aspirasi saya-saya ini bila disatu-padukan bisa jadi gunung upil. Yang bisa saja membawa negara ini menuju ambang kehancuran karena banyak yang memilih pemimpin baru berdasarkan mood, bukan hasil fikir bijak.
Nah, daripada mendengarkan suara saya dan kaum-kaum sejenis yang terbelakang ini, alangkah baiknya bila kita konsisten ikut pancasila saja. Pemimpin dipilih berdasarkan hasil musyawarah dan mufakat para cendikia. Yang paham, yang tau menilai kualitas dan integritas pelamar posisi tampuk kekuasaan. Jadi pemimpinnya gak asal. Gak leha-leha karena tau, ada orang-orang yang mengawasi. Salah dikit, colek. Salah banyak, gelar sidang. Ketatlah pokoknya.
Nah, kaum cendikia yang saya maksud, di negara ini dikenal sebagai legislatif.
Celakanya, anggota-anggota legislatif tersebut adalah pilihan dari saya-saya, pemilik saham tunggal gunung upil. Ahahay, mantap sudah. Hasilnya jadi kurang-lebih sama saja. Legislatif yang dipilih kebanyakan juga merupakan pemilik saham. Kebiasaan kan, orang cari-cari dan pilih yang cucok dirinya sendiri.
Keuntungan utama pelimpahan aspirasi kepada bapak-ibu legislatif ini ya hemat tenaga, tidak perlu berpayah-payah ke TPS. Kerugiannya, aspirasi jadi kurang tersalurkan. Dan mengurangi bahan foto narsis.
Jadi solusinya piye cak? Masa milih kepala daerah pakai suit? Apa dibikin lotere aja? Biar semua orang punya kesamaan hak untuk jadi pemimpin. Kan demokrasi banget tuh. Semua setara. Mau petani, profesor, buruh pabrik, tukang ojeg, PNS, pejabat incumbent, residivis, tersangka korupsi, pelaku perkosaan, dokter, guru, dll. semua punya hak jadi pemimpin. Ini bisa jadi kemajuan besar dalam pelaksanaan demokrasi di negara ini lho. Dulu kita cuma punya kesetaraan hak pilih saja, sekarang jadi punya kesetaraan hak dipilih. Bisa membuat harum nama bangsa di dunia, sebagai negara demokrasi penuh hingga meluap-luap. Bagaimana?
Haha manalah saya tau. Yang jelas jangan saya lah, yang jadi kepala daerah. Saya ini cuma upil.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI