Mohon tunggu...
Efron Dwi Poyo
Efron Dwi Poyo Mohon Tunggu... -

Fanatik FC Bayern München. Mia San Mia

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

Saya Senang Guardiola Hengkang dari Bayern

9 Februari 2016   07:05 Diperbarui: 15 Januari 2017   23:14 1732
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sebagai fanatik dan fundamentalis FC Bayern München dan die Mannschaft saya senang mendengar Pep Guardiola meninggalkan Bayern pada akhir musim ini. Guardiola masuk ke Bayern dengan bekal kuat dua trofi Liga Champions ketika mengasuh FC Barcelona. Sulit untuk membantah kualitas tinggi keterandalan Pep dengan sederet prestasi.

Dalam pada itu Bayern adalah klub bertradisi kuat di Eropa dan ditambah lagi Bayern adalah satu-satunya klub papan atas Eropa yang tidak mempunyai hutang. Bayern merupakan klub di Eropa yang dikelola secara rasional dalam arti ia akan membeli pemain handal dengan harga yang pantas. Tradisi kuat dan rasional Bayern membuat siapa saja yang melatih tidak mengubah Bayern yang disegani di Eropa dan tentu saja di Bundesliga. Bahkan ada yang berkelakar “even my dog can train Bayern”.

Semasa kepelatihan Jupp Heynckes (2011-13) Bayern mempunyai rerata ball possesion di atas 60%. Faktor-faktor itulah yang membuat Guardiola menerima pinangan Bayern (lewat negosiasi Uli Höneß). Sebagai pengalaman pertama merantau Guardiola memilih langkah aman dengan memilih melatih Bayern menggantikan Heynckes yang menyatakan pensiun dari dunia kepelatihan.

Bayern yang sudah 25 kali memenangi Bundesliga mau tidak mau menjuarai Liga Champions menjadi galahukur keberhasilan pelatih Bayern selain menerbitkan bintang muda asli binaan Bayern. Mari kita lihat Bayern pada masa dua kepelatihan sebelum Guardiola.

Louis van Gaal (2009-11)

Aloysius Paulus Maria van Gaal atau yang populer dengan nama Louis van Gaal mengganti Jürgen Klinsmann yang gagal total “memodernisasi” Bayern pada 2008-09. Klinsmann dipecat sebelum musim 2008-09 berakhir, kemudian Bayern menunjuk Jupp Heynckes sebagai pelatih caretaker. Musim pertama di Bayern van Gaal melakukan konsolidasi setelah Bayern hancur luluh menjadi “kelinci percobaan” Klinsmann.

Awalan van Gaal sangat buruk dengan satu kali menang saja pada empat partai pertama Bundesliga 2009. Namun van Gaal menegaskan bahwa ia butuh waktu untuk mendaratkan filsafat sepakbolanya. Banyak perubahan penting yang dilakukan van Gaal. Arjen Robben dibeli dari Real Madrid. Dua pemain remaja asli binaan Bayern, Thomas Müller dan Holger Badstuber masuk menjadi pemain reguler. Dua pemain remaja ini tentu saja berhutang kepada van Gaal, karena berkatnya mereka masuk pemain timnas Jerman pada Piala Dunia 2010. Badstuber menjadi pilihan utama Joachim Löw untuk posisi bek kiri, sedang Müller untuk gelandang serang yang akhirnya menobatkannya menjadi top skorer turnamen paling bergengsi itu. Bastian Schweinsteiger yang biasa berposisi winger disulap van Gaal menjadi gelandang bertahan. Luca Toni, striker yang punya peran besar pada musim sebelumnya, dibuang van Gaal ke AS Roma.

Pada musim pertama van Gaal sukses menggaet trofi Bundesliga dan mengantar Bayern ke final Liga Champions. Pada musim kedua van Gaal tidak berhenti memanfaatkan bakat pemain muda binaan Bayern. Kali ini Thomas Kraft dipercaya secara reguler menjaga gawang Bayern menggeser kiper senior Hans Jörg Butt.

Secara singkat hal yang menarik dari van Gaal ialah mengangkat tiga pemain muda menjadi sosok hebat: Thomas Müller, Holger Badstuber, dan Thomas Kraft (pada musim 2011 Kraft pindah ke Hertha Berlin dan menjadi nomor satu hingga saat ini). Hal yang sama saya lihat pada van Gaal di Manchester United. Pemilik dan para pendukung United haruslah bersabar menunggu hasil proses penataan van Gaal.

Jupp Heynckes (2011-13)

Josef “Jupp” Heynckes bukanlah pelatih biasa. Ia pernah mengantar Real Madrid menjuarai Liga Champions pada 1998. Sebagai pemain Borussia Mönchengladbach Heynckes muda adalah top skorer Bundesliga pada musim 1973-74 (30 gol bersama dengan Gerd Müller) dan musim 1974-75 (27 gol). Heynckes kembali ke Bayern pada awal musim 2011, yang sebelumnya ia melatih Bayern pada musim 1987-91 dan sebagai pelatih caretaker pada 2009 menyusul pemecatan Klinsmann.

Heynckes menanggung tugas berat yang tidak bisa dilakukan oleh van Gaal pada musim sebelumnya yaitu menghentikan pasukan muda Borussia Dortmund asuhan Jürgen Klopp. Heynckes melakukan penghampiran (approach) berbeda dari van Gaal dalam mendaratkan filsafat sepakbolanya. Heynckes dikenal sebagai pelatih sepakbola textbook yaitu bermain dan mencetak gol dengan perencanaan. Usia 67 adalah maslahat tersendiri bagi Heynckes sehingga ia berlaku sebagai ayah bagi pemain-pemainnya.

Franck Ribéry yang disingkirkan oleh van Gaal dibangkitkan lagi motivasinya. David Alaba gelandang serang muda asli binaan Bayern disulapnya menjadi bek kiri. Toni Kroos djadikan andalan sebagai pemain nomor 10. Kroos, yang pernah dipinjamkan ke Bayer Leverkusen, menjadi pemain reguler Heynckes ketika ia menangani Leverkusen (2009-11). Heynckes juga dengan tegas menolak pernyataan “Don’t change the winning team!” dengan argumen “It depends on our opponents.”. Walau tidak mengubah semua komposisi, Heynckes menggunakan rumus 6-5 dalam starting XI: enam pemain utama, lima pemain rotasi. Ramuan Heynckes ini nyaris menghasilkan prestasitreble pada 2012. Yang sangat menyakitkan ketika harus kalah 0-1 dari Chelsea pada final Liga Champions di kandang sendiri. Kekalahan menyakitkan ini meruntuhkan moral pemain-pemain Bayern yang menjadi tulang punggung die Mannschaft dan dinilai sebagai satu faktor penyumbang kegagalan die Mannschaft pada Euro 2012 yang diamini juga oleh Joachim Löw.

Musim 2012-13 dijadikan Heynckes sebagai penutup karier kepelatihannya. Heynckes makin memotivasi pemain-pemainnya. Ribéry dan Robben yang dikenal sebagai pemain selfish justru didorongnya untuk tetap selfish guna mencetak banyak gol, namun ia memberikan syarat ketat untuk cepat turun ke daerah pertahanan sendiri membantu Philipp Lahm dkk. Bukan itu saja, Mario Mandzukic,striker tajam Bayern, sering turun ke kotak penalti sendiri. Tidak jarang komentator televisi secara berkelakar menyebut Mandzukic sebagai bek yang tangguh. Bayern musim 2012-13 menjelma menjadi garang sekaligus solid rock dalam bertahan. Kado indah berupatreble (juara Bundesliga, juara DFB Pokal, dan juara Liga Champions) bagi Jupp Heynckes yang pensiun dari pelatih.

Pep Guardiola (2013-16)

Penunjukan Josep Guardiola Sala alias Pep Guardiola diumumkan enam bulan sebelum musim 2012-13 berakhir setelah Bayern menerima kepastian Heynckes akan pensiun. Harapan sangat tinggi dari para pendukung Bayern kepada Guardiola seolah-olah membawa beban tersendiri. Dalam pada itu banyak pengamat mengatakan bahwa Guardiola akan memindahkan tiki-taka Barcelona ke Bayern.

Pendapat pengamat tersebut mulai terbukti. Bayern, yang sebelumnya sangat garang, tampil membosankan. Bola yang sudah bergulir ke arah kotak penalti dikembalikan lagi ke belakang demi menjaga ball possession. Lahm yang terlahir sebagai full back dimutasi menjadi holding midfielder pada musim pertama Guardiola. Lahm memang melakoni peran barunya dengan gemilang, namun Rafinha yang menggantikan Lahm di bek kanan masih jauh di bawah kualitas Lahm. Guardiola mengantar Bayern menjuarai Bundesliga, namun ia belum bisa membawa Bayern ke final Liga Champions setelah dikalahkan oleh Real Madrid secara memalukan.

Musim kedua (2014-15) Guardiola justru membuang Toni Kroos yang baru saja meraih juara dunia bersama die Mannschaft dan menukarnya dengan Xabi Alonso yang sudah tua. Pada musim kedua terkuak bahwa Guardiola suka memaksakan kehendak memainkan pemain yang belum sepenuhnya fit. Hal ini menyeruak pada partai Liga Champions 16 April 2015 ketika Bayern dikalahkan 3-1 oleh Porto. Dikabarkan terjadi pertengkaran antara Guardiola dan dokter tim, Hans-Wilhelm Müller-Wohlfahrt. Dr. Müller-Wohlfahrt akhirnya memilih keluar setelah bekerjasama dengan Bayern selama 35 tahun. Dr. Müller-Wohlfahrt juga merangkap dokter tim die Mannschaft. Walau Guardiola dua kali membawa Bayern menjuarai Bundesliga, ia belum bisa membawa Bayern ke final Liga Champions setelah disingkirkan oleh Barcelona.

Musim ketiga di Bayern Guardiola menyingkirkan ikon Bayern sekaligus kapten die Mannschaft, Bastian Schweinsteiger. Namun demikian kehadiran Douglas Costa dan Kingsley Coman dinilai oleh pengamat bahwa Bayern mempunyai pasukan terbaik sepanjang masa. Sampai laga ke-20 Bayern masih memimpin tabel Bundesliga dengan selisih delapan poin dari saingan terdekatnya, Borussia Dortmund. Guardiola masih mempunyai kesempatan membuktikan bahwa ia pelatih berkelas dengan meraih treble seperti yang dilakukan oleh Jupp Heynckes.

Saya senang Guardiola hengkang dari Bayern bukan karena saya membencinya, tetapi lebih pada Bayern yang bukan lagi menjadi pemasok utama die Mannschaft. Bayern juga sudah berubah “genetik’-nya. Ketika Jerman menjuarai Piala Dunia 2014, die Mannschaft berintikan tujuh pemain Bayern (Neuer, Lahm, Schweinsteiger, Boateng, Kroos, Müller, dan Götze) dan bahkan delapan apabila Badstuber tidak cedera. Guardiola malah membuang bakat-bakat muda Bayern: Mitchel Weiser ke Hertha Berlin, Gianluca Gaudino ke St. Gallen, Swiss, Sinan Kurt ke Hertha Berlin, Pierre-Emile Højbjerg ke FC Schalke, dan Julian Green dipinjamkan ke Hamburger SV dan sekarang kembali ke Bayern namun tidak pernah diturunkan di tim senior.

Ketika seorang perampok bank ditanya mengapa ia merampok bank tentu saja jawabannya karena ada banyak uang di sana. Guardiola sepertinya mengingkari filsafatnya sendiri dengan memilih City. Manchester City adalah klub kecil yang tiba-tiba disokong oleh kekuatan finansial "hantu". City bukanlah klub bertradisi kuat seperti halnya United, Arsenal, Liverpool, atau bahkan Aston Villa. Guardiola bukanlah tipe pelatih pragmatis seperti José Mourinho sehingga menurut saya Guardiola telah melakukan kekeliruan besar memilih City. Ia tidak akan bisa membawa City ke jajaran “bangsawan” sepakbola Eropa, kecuali pemilik City bersabar dengan mengontrak Guardiola selama 20 tahun dan Guardiola mau menerimanya.

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Bola Selengkapnya
Lihat Bola Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun