Malang, sebuah kota kecil di pulau Jawa bagian timur. Kota Surabaya dengan segala hiruk-pikuknya masih berjarak sekitar 100 km di utara. Â
Namanya telah tersohor untuk mengajak banyak orang merasakan iklimnya yang sejuk. Tiga gunung, Arjuna, Kawi, dan Semeru mengepung di segala penjuru.
Itu belum termasuk mejengnya sejumlah perguruan tinggi ternama. Sebut saja, Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Islam Malang, UIN Malang, dan sebagainya.
Sudah barang tentu, Malang dipenuhi mahasiswa dari segala kota di Indonesia. Hal yang memberikannya warna dan dinamis.
Saya beruntung telah menghabiskan tahun demi tahun hidup di sini. Ada interaksi yang terus berjalan setiap harinya melalui pertemuan dengan orang-orang berbeda pikiran, suku, agama, dan selera humor. Jika bukan karena harus menempuh perkuliahan, istilah everyday is holiday barangkali cocok disematkan pada Malang.
Satu tahun berlalu sejak saya meninggalkan Malang. Lantas ada pertanyaan, bagaimana keadaan kota ini?Â
Medio Oktober lalu, saya kembali menginjakan kaki ke Malang. Namun, hampir tidak banyak yang berubah dari wajah Malang, kecuali kabar mayoritas anggota DPRD Kota Malang menjadi tersangka kasus korupsi beberapa bulan lalu.
Beberapa teman yang berasal dari luar Malang memilih menetap di sini. Saya sering bertanya dalam hati, apa yang membuat mereka enggan beranjak dari kota ini? Namun, pertanyaan itu tetap saya simpan sebab saya berpikir, mereka hampir tidak pernah memberi jawaban yang jelas.
Penjelasannya kurang lebih begini, status sarjana yang melekat membuat saya memilih: berkontribusi untuk daerah atau menanjak karir ke tempat yang lebih tinggi. Inilah pilihan yang ada. Namun saya memilih hal terakhir, barangkali beberapa mahasiswa lainnya.
Secara pribadi, saya memilih hengkang karena isu finansial. Dengan berat hati, saya meninggalkan kota ini untuk mengumpulkan pundi-pundi di kota lain.
Hujan pun turun di kota yang saya tinggali saat ini. Saya bergegas berangkat ke warung kopi Unyil atua warung kopi lainnya yang tidak menyediakan pegangan tangan pada cangkir kecilnya. Jika tidak, pilihan lain adalah bergeser ke Jalan Soekarno-Hatta. Namun, ternyata ini sebuah khayalan. Tempat-tempat itu beratus kilometer jauhnya dari kediaman saya saat ini.