Kontradiksi kebijakan terkait kepemilikan senjata api, menjadi rivalitas sengit dalam momentum kampanye dua capres tersebut, sebagai konsepsi politik dalam meraih dukungan publik AS.
Anehnya, jika kebijakan dukungan kepemilikan senjata api dianggap bermanfaat, lalu mengapa pelaku bertindak nekad menembak Donald Trump dalam momentum kampanye dengan menggunakan senjata api?
Ini menjadi sebuah keprihatinan. Kebijakan capres Donald Trump untuk berpihak pada warga AS terhadap kepemilikan senjata api, justru nyaris merenggut nyawanya sendiri. Inikah yang dinamakan senjata makan tuan? Hanya Donald Trump yang bisa merasakannya.
Konsepsi politik yang ditaburnya, justru menuai tindakan antagonis yang melukai anggota tubuhnya lewat peluru senjata api. Akankah Donald Trump berkontemplasi atas kebijakan politiknya soal kepemilikan senjata api secara bebas yang bisa membahayakan orang lain termasuk dirinya?Â
- Kasus penembakan tersebut tentu menjadi preseden buruk bagi penyelenggaraan pesta demokrasi negara super power tersebut. Dunia tengah melihat AS sedang tidak baik-baik saja dalam berdemokrasi.
Sebagai negara yang mengklaim diri negara paling demokratis di dunia, muncul pertanyaan quo vadis (mau kemana) pilpres AS pasca penembakan? Apakah akan berlanjut dalam situasi aman terkendali, tanpa ada kejadian membahayakan lagi?
Ataukah berlanjut dalam bayang-bayang munculnya aksi teror lanjutan, dari oknum tidak bertanggungjawab yang ingin merusak jalannya pesta demokrasi negara adikuasa tersebut?
Hanya pihak keamanan nasional AS yang mengetahui bagaimana kondisi stabilitas negara tersebut kedepan. Apakah pilpres akan berlanjut sesuai jadwal, atau break sejenak menunggu hasil pengusutan kasus penembakan, terang benderang di hadapan publik AS.
Dunia sejatinya tengah menunggu rivalitas pilpres AS yang menghadirkan kontradiksi kebijakan politik, antara Joe Biden dan Donald Trump. Baik menyangkut kebijakan internal (dalam) negeri, maupun eksternal (luar) negeri.
Kontradiksi kebijakan internal terkait kepemilikan senjata api akan menjadi isu sensitif dalam rivalitas pilpres. Menarik untuk diikuti apakah Donald Trump akan tergerus dengan isu tersebut, atau sebaliknya makin mendapat simpati publik AS?
Isu sensitif lainnya yakni terkait keberadaan imigran ilegal yang menikah dengan warga AS, dimana antara kedua capres berbeda kebijakan. Joe Biden akan memberi perlindungan berupa pengajuan izin tinggal. Sementara Donald Trump menghendaki deportasi besar-besaran.
Kebijakan sensitif dan cenderung kontroversi yang diusung kedua capres, berpotensi menimbulkan ketidaksukaan personal maupun sekelompok orang yang teraktualisasi dalam bentuk aksi teror. Kasus penembakan Donald Trump adalah contohnya.