Nggak percaya Pak Ustaz, apa betul, masa iya punya kaitan dengan penghianatan terhadap isterinya. Kan isteri Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia tidak punya kaitan dengan suaminya, Ari Askhara, yang menyelundupkan barang mewah berupa motor gede (moge) itu.
"Betul, isteri sang Dirut itu tak ada kaitan sebagai penyelundupan dengan menggunakan pesawat Garuda. Sungguh tepat isterinya tak tahu apa-apa," kata sang ustaz dalam obrolan usai shalat Subuh kepada penulis.
Jawaban sang ustaz ini membuat bingung penulis. Pasalnya, tindakan "nakal" Ari Askhara itu kok dikaitkan dengan penghianatan. Ya, menurut sang ustaz yang tak perlu disebut jati dirinya itu, justru isterinya sering dihianati.
Kalau sudah menghianati isteri, bisa jadi anak dan anggota keluarganya pun dihianati. "Pokoknya, dia telah menghianati isteri, anak dan anggota keluarga," ucapnya bersemangat.
Hmmm. Penulis jadi berfikir panjang. Saat itu otak berputar. Bisa jadi lagi telat mikir alias telmi. Ya, telmi karena nggak nyambung pembicaraan dengan sang ustaz yang tampilan sederhana ini.
Lama menanti ia melanjutkan pembicaraannya sambil duduk bersama di lantai masjid.
Lantas ia menjelaskan. Biasanya, seseorang yang sudah menghianati isteri, anak dan anggota keluarga punya dorongan kuat untuk berhianat di lingkungan perkantoran. Bahkan di lingkungan lebih besar lagi. Berpotensi berhianat kepada negara. Bila ia pejabat, misalnya seperti Ari Askhara itu, ia menghianati isterinya dengan cara berselingkuh.
Boleh jadi ia punya "cemceman", alias punya wanita lain untuk bobo boboan. Dorongan itu hadir karena sudah punya uang banyyyyaaaak. Punya kekuasaaaaan pula. Ia bergerak pun atas nafsunya sendiri. Tanpa sadar, ia telah menjadi pengabdi nafsu (syahwat).
Orang yang sudah menjadi pengabdi nafsu, dalam prespektif agama (Islam) dapat disebut sebagai pengabdi setan.
"Kalau bapak tak yakin omongan saya, coba investigasi perilaku Ari sehari-hari. Adakah isterinya dihianati?" tanya sang ustaz.
**