Dalam konteks pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak, muncul fenomena menarik yang pantas untuk diperbincangkan: kotak kosong. Fenomena ini bukan hanya sekadar simbol ketidakpuasan terhadap calon pemimpin, tetapi juga menjadi representasi dari harapan masyarakat untuk mendapatkan pemimpin yang benar-benar pro rakyat. Dengan mengangkat perspektif psikopolitik, kita bisa memahami bahwa kotak kosong adalah alat perjuangan masyarakat untuk mengadvokasi kesejahteraan rakyat.
Kotak kosong yang muncul dalam beberapa Pilkada, seperti di Makassar pada 2018, bukanlah sebuah pilihan yang nihil. Sebaliknya, ini adalah tindakan protes yang berarti. Richard J. Ellis dalam bukunya Political Psychology: A Social Science Perspective (2020) menekankan pentingnya pemahaman kondisi sosial dan psikologis masyarakat dalam menentukan pilihan politik. Dalam konteks ini, kotak kosong menggambarkan ketidakpuasan mendalam terhadap elite politik yang dianggap tidak memiliki kredibilitas. Masyarakat yang memilih kotak kosong ingin menekankan bahwa mereka menuntut lebih dari sekadar janji-janji, tetapi pada aksi nyata yang membawa kesejahteraan.
Ketika rakyat memilih kotak kosong, mereka secara tidak langsung mengajak kita untuk berpikir kembali tentang siapa yang layak dipilih sebagai pemimpin. David Easton, dalam A Systems Analysis of Political Life (1965), menjelaskan bahwa pemimpin yang efektif haruslah mencerminkan aspirasi dan kebutuhan rakyat. Dengan memilih kotak kosong, rakyat memberikan sinyal kuat bahwa mereka menolak pemimpin yang tidak dapat memenuhi tuntutan tersebut. Ini adalah bentuk perlawanan yang cerdas, mendorong dialog tentang kualitas kepemimpinan yang lebih baik.
Kesadaran Kolektif
Psikopolitik mengajarkan tentang kekuatan collective action atau tindakan kolektif. Kotak kosong adalah manifestasi dari kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya memiliki pemimpin yang tidak hanya berambisi meraih kekuasaan semata, tetapi yang juga berkomitmen untuk mensejahterakan rakyat. Mobilisasi untuk memilih kotak kosong merangkul semangat kebersamaan dalam menolak korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Menurut Ervin Staub dalam The Psychology of Good and Evil: Why People Help Others (2010), tindakan pro-sosial dapat muncul dari kolektivitas yang kuat di kalangan masyarakat. Kotak kosong adalah wujud aksi kolektif untuk menuntut pemimpin yang mampu memberikan harapan baru.
Pendidikan politik yang baik juga harus menjadi bagian dari kesadaran masyarakat. Hanya dengan pemahaman yang mendalam, rakyat dapat melihat kotak kosong bukan sebagai pilihan putus asa, melainkan sebagai aksi strategis. Menurut Shanto Iyengar dan Donald Simon dalam New Perspectives on Political Psychology (2022), pendidikan politik yang memadai membuat masyarakat lebih kritis dalam menilai kandidat yang diusung. Kotak kosong menjadi alternatif yang menuntut calon pemimpin untuk lebih bertanggung jawab dan transparan dalam setiap langkah mereka.
Dari sudut pandang psikologis, kita juga harus menyadari bahwa memilih kotak kosong adalah refleksi dari harapan akan perubahan yang lebih baik. Banyak ahli, seperti Jonah Berger dalam Contagious: How to Build Word of Mouth in the Digital Age (2013), menekankan kekuatan aspirasi dalam merubah perilaku kolektif. Pilihan kotak kosong menunjukkan keinginan masyarakat untuk tidak terjebak dalam tawaran politik yang dangkal, tetapi berusaha menuntut sesuatu yang lebih substansial. Ini adalah respons cerdas terhadap politik uang dan praktik korup yang sudah menjamur.
Fenomena kotak kosong adalah gambaran dari realitas sosial yang harus kita apresiasi. Masyarakat yang cerdas dan peduli terhadap keadaan sekitarnya tidak akan terjebak dalam jebakan janji-janji manis dari para politikus. Menolak kandidat yang tidak kompeten adalah langkah yang patut difasilitasi oleh seluruh elemen masyarakat. Dalam pandangan Claude Lefort, yang diungkapkan dalam Democracy and Political Theory (1986), demokrasi adalah ruang untuk perdebatan dan resistensi. Pilihan untuk memilih kotak kosong adalah bagian dari ruang tersebut yang harus kita hargai.
Refleksi Kritis
Mari kita renungkan, apakah pemimpin yang kita pilih layak untuk membawa kita ke arah kesejahteraan? Apakah mereka mampu berkomitmen untuk mewujudkan aspirasi rakyat? Memilih kotak kosong bukan hanya sekadar tindakan simbolik, tetapi sebuah keputusan strategis untuk menunjukkan bahwa rakyat menuntut yang terbaik dari para pemimpin mereka. Ini adalah pernyataan yang tegas bahwa rakyat bukanlah pihak yang bisa dipermainkan dalam arena politik.