Beberapa waktu lalu, tepatnya 10 Mei 2022, komunitas gamer kembali dihebohkan dengan adanya kabar bahwa Riot Games, selaku pengembang game League of Legends (LoL) menggugat Moonton,
selaku pengembang game Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) atas kasus plagiasi. Sebelumnya, pada tahun 2018 Riot Games bersama perusahaan induknya,
Tencent Holdings juga pernah melayangkan gugatan serupa kepada game Mobile Legends: 5v5 MOBA, sehingga kemudian berganti nama menjadi MLBB seperti yang dikenal saat ini.
Namun, dengan sederet gugatan plagiat yang diterimanya tidak membuat kepopuleran game MLBB surut, terutama di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia. Apa sebabnya?
1. Berlindung dengan kata “terinspirasi”
Ketika game MLBB dikatakan plagiat oleh pemain game lain, pemain game MLBB sering beralasan bahwa hal tersebut adalah tersinspirasi bukan plagiat. Dari data di lapangan, kemiripan yang ada dalam game MLBB dengan game serupa tidak hanya satu, melainkan cukup banyak. Dari gugatan terbaru Riot Games saja, ada seratus lebih hasil karya yang dituding merupakan hasil plagiat.
Pengertian inspirasi sendiri adalah suatu proses yang mendorong atau merangsang pikiran untuk melakukan sesuatu. Inspirasi tersebut akan memunculkan ide-ide kreatif. Walaupun demikian, batasan antara plagiat dan terinspirasi sendiri masih menjadi perdebatan.
2. Mindset masyarakat awam yang masih menyepelekan plagiarisme
Di lingkungan akademik, terlebih perkuliahan, masalah plagiarisme ini sudah menjadi hal yang biasa sehingga mereka dapat menempatkan diri mereka agar tidak melakukan atau membuat sesuatu yang plagiat.
Namun tidak dengan masyarakat umum, khususnya di Indonesia yang masih memiliki tingkat pendidikan serta literasi yang rendah. Ketika kasus plagiat yang dilakukan Moonton mencuat, para pemainnya justru merasa hal tersebut seharusnya tidak perlu diributkan atau bahkan sampai di gugat ke pengadilan.