PRESIDEN Joko Widodo telah menyentil perombakan kabinet sejak pertengahan tahun. Saat itu Jokowi kecewa atas kinerja para menteri yang masih bekerja seperti biasanya (as usual) tidak memiliki karsa (sense of crisis) bahwa negara tengah genting akibat pandemi Covid-19.
Saat itu Jokowi menyentil kinerja para menteri. "Kita harus ganti channel dari ordinary pindah channel ke extraordinary. Dari cara-cara yang sebelumnya rumit, ganti channel ke cara-cara cepat dan cara-cara yang sederhana. Dari cara yang SOP (standar operasional prosedur) normal, kita harus ganti channel ke SOP yang smart shortcut. Gimana caranya? Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara lebih tahu dari saya, menyelesaikan ini. Kembali lagi, jangan biasa-biasa saja," kata Jokowi dalam Sidang Kabinet Paripurna 18 Juni 2020 di Istana Negara.
"Langkah apapun yang extraordinary akan saya lakukan. Untuk 267 juta rakyat kita, untuk negara. Bisa saja membubarkan lembaga, bisa saja reshuffle. Sudah kepikiran ke mana-mana saya," ia menekankan.
Sejak saat itu pembicaraan pergantian menteri lebih riuh ketimbang langkah-langkah kinerja para menteri memasuki tahun pertama menjabat. Terutama menghadapi krisis pandemi Covid-19. Hiruk pikuknya rumor pergantian menteri membuat Menteri Sekretaris Negara Pratikno angkat bicara membantah isu perombakan atau reshuffle kabinet.
"Pak Presiden selalu perintahkan kepada menteri untuk fokus bekerja, fokus menyelesaikan krisis, dan fokus membajak momentum krisis ini untuk melakukan lompatan kemajuan di segala bidang," kata Pratikno di akhir Agustus.
Jadi, selama dua bulan media banyak ramai membicarakan mengenai siapa yang bakal keluar dan siapa saja yang masuk di kabinet Jokowi. Tidak hanya parpol yang mempunyai kepentingan, tetapi juga pengamat, hingga masyarakat luas.
Meski sudah ada penegasan belum ada rencana perombakan kabinet tetap saja isu seksi itu bergulir. Hingga Jokowi sendiri yang harus berbicara kapan reshuffle yang merupakan otoritasnya sebagai presiden akan dilakukan.
"Ya bisa aja. Bisa aja minggu depan, bisa aja bulan depan, bisa aja tahun depan," kata Jokowi diiringi derai tawa, dalam wawancara eksklusif dengan Rosi di Kompas TV, 16 November 2020.
Waktu bergulir persoalan Covid-19 terus mengimpit. Jokowi mungkin harus memberikan pertimbangan mengenai keharusan penanganan Covid-19 sebagai prioritas dan perombakan kabinet yang sekadar desakan kepentingan politik.
Jokowi mungkin sudah merasa nyaman dengan kinerja para menteri setelah penegasan yang dilakukan sejak tengah Juni. Pada Juni itu, Jokowi sebenarnya telah menyentil Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, termasuk Menteri Keuangan dalam pencairan anggaran.
Pertimbangan Jokowi tampaknya belum pada kesimpulan untuk mengganti menteri. Timbangannya mungkin masih berat mempertahankan menteri ketimbang mencopot pembantunya.