Istilah overthinking dikenal belum lama. Munculnya di kalangan anak-anak muda. Ketika salah seorang di antara mereka hendak meledek temannya yang kebanyakan bengong dan berpikir, akan dibilang overthinking. "Nggak usah overthinking, terlalu banyak berpikir. Nanti kau cepetan tua," ujarnya berseloroh.
Memahami Makna
Begitulah, istilah overthinking banyak beredar belakangan kendati praktiknya atau kasusnya sudah lama terjadi, bahkan mungkin sejak manusia ada dan berpikir. Lalu, apa makna sesungguhnya istilah ini?
Overthinking, secara bebas, dapat diartikan sebagai kebiasaan pada seseorang yang terlalu banyak berpikir tentang segala sesuatu sehingga membuatnya terpuruk secara psikologis.
Kebiasaan ini terjadi karena yang bersangkutan masalah yang dihadapi dinilainya begitu berat sehingga membuatnya berpikir dan berpikir terus. Tetapi, berpikir yang berlebihan terhadap sesuatu hal  bisa membuat pikiran terbebani dan bahkan bisa mendatangkan penyakit.
Mengurai Akibat
Seperti apa tepatnya akibat perilaku overthinking itu? Apa akibatnya, baik secara psikologis maupun fisik, seseorang yang mengalami overthinking?
Pertama, menguras pikiran berlebihan. Berpikir tentang sesuatu terlalu intens sepanjang hari, bisa menjadi masalah. Pikiran akan terbebani secara berlebihan.
Seperti otot yang dipaksa untuk melakukan tugas fisik tertentu di luar kemampuannya, pikiran juga demikian. Pikiran akan stress, bahkan stres berat yang berujung pada depresi.
Oleh karena itu, secara psikologis tidaklah baik memaksa pikiran untuk memikirkan segala sesuatu di luar batas kemampuannya. Pikiran pun memiliki batasan sehingga kalau kelewat batas, akan menjadi penyakit pikiran.
Kedua, tidak bisa merasakan ketenangan. Pikiran yang terlalu terbebani oleh satu atau lebih masalah, seringkali tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Ia merasa tertekan dan ia pun terpuruk karena tidak kuat menghadapi tekanan berlebihan itu. Sebuah ungkapan menyebutkan bahwa, "Overthinking is the  biggest cause of unhappiness."