Aku adalah seorang santri, sudah 3 tahun aku dipondok pesantren. kisahku dimulai saat aku masuk kejenjang sekolah yang lebih tinggi yaitu SMA. Disini aku sangat bimbang antara ingin menuruti keinginan orang tuaku, yang ingin aku belajar, disekolah yang berbasis islam dan tetap mondok.
Atau keinginanku belajar disekolah impianku. dengan perdebatan dan saran dari orang tuaku, aku mengikuti keinginan mereka. pelajaran efektif sudah mulai aku masuk dijurusan IPA karena memang aku suka dengan mata pelajaran IPA disini aku banyak menemukan teman yang baik, disini aku belajar seperti biasa tapi lama kelamaan aku sering down dan tidak bisa memenejemen waktu antara kegitan sekolah dan kegiatan dipondok pesatren sehingga prestasiku sangat menurun aku sering tidak masuk dan banyak kakak kelasku mengkritik aku dibilangnya aku bohong kalau sakit bahkan aku sering disidang sama kakak kelasku dipondok.
Sekolah sampai aku dipaggil keruang BK karena sering tidak masuk sekolah. Sama halnya dengan kegiatanku dipondok tidak bisa terkontrol dengan baik, sehingga akhir semester genap aku memutuskan untuk keluar dari pondok meskipun banyak yang menentang dari orangtuaku, bu nyai sama kyaiku. Tapi disisi lain aku tidak bisa memenejemen waktu. Tetapi banyak sahabatku yang selalu mendukungku selalu memberiku semangat.
Akhir semester alhamdulillah prestasiku naik. Dan pada semester - semester berikutnya alhamdulillah sampai aku lulus .aku bisa menggapai keinginanku untuk menjadi juara dikelas dan mampu membuktikan kepada mereka, yang merendahkanku,.
Kekalahan sesungguhnya adalah saat kamu takut untuk melangkah, saat kamu takut memiliki harapa baru. jadi, jangan takut selama kamu tidak takut untuk terus berjalan, maka kamu belum kalah.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI