Setiap orang pasti memiliki pengalaman yang menarik bukan? Nahh...kali ini saya akan sedikit berbagi pengalaman saya selama perkuliahan pada mata Kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan. Dua semester adalah bukanlah waktu yang singkat untuk mengenal sebuah nama. Yah..nama yang pastinya tidak asing tedengar yang sangat erat kaitannya pada mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan. Dan itu adalah suatu nama bapak dosen yang biasa dikenal dengan Pak Edi. Selama belajar bersama Pak Edi, saya telah mampu mematahkan ekspetasi mengenai dunia perkuliahan. Sempat terlintas dibenak bahwa kuliah itu menakutkan apalagi jikalau bertemu dosen yang dibilang “killer”. Belum lagi dipaksa harus belajar pada jurusan yang tidak pernah saya tahu sebelumya. Sejauh ini, ekspetasi itupun salah, meskipun dalam kenyataannya tidak selalu sama. Lantas apakah yang telah saya dapatkan selama belajar di mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan?
Sebelum semua itu terjawab saya akan sedikit menengok kebelakang. Dimulai dari kisah perkenalan yang tidak biasa mampu menjadikan kesan yang luar biasa. Pagi itu tampak suasana kelas yang masih sangat hening. Bukan karena tidak ada aktivitas, namun rasa canggung yang masih sangat kental. Semua warga kelas sibuk dengan aktivitas masing-masing. Awal perkenalan pun dimulai, waktu itu adalah mata kuliah Pancasila, yang mana beliau mengaku sebagai “staff” dari fakultas yang acap kali menggantikan jika dosen berhalangan hadir. Karena masih maba dengan polosnya kita mempercayainya begitu saja. Pembelajaran pun berlanjut seperti biasa dan tidak terasa keanehan apapun. Hingga beberapa kali pertemuan, staff itu pun selalu datang dan membohongi kami dengan mengatakan “mohon maaf Pak Edi tidak bisa hadir”. Beliau juga mengatakan pak Edi itu terkenal sebagai dosen yang jahat di UIN Malang. Namun keanehan itu justru tampak ketika kita baru saja membuat grup wa, sebuah nama yang tidak asing. Yah.. nama yang sama persis dengan Pak Edi dan wajah foto profil yang mengaku staff kala itu. Dan betapa terkejutnya kami setelah mengetahui itu adalah Pak Edi yang asli, maklum masih polos hehe..Pastinya perkenalan itu tidak menjadikan kami benci ataupu marah, melainkan semakin menambah kedekatan mahasiswa dan dosen dalam harmonisasi hubungan. Sistem pembelajaran berjalan dengan baik, meski terselip candaan, humor bahkan nyaris seperti kelas tongkrongan tapi itu tidak mematahkan semangat kita untuk terus belajar. Selama Kuliah, kita juga tidak diharuskan memakai pakaian yang formal, bebas namun sopan. Selain itu, metode yang penyampaian pembelajaran yang santai menjadikan mahasiswa menjadi semakin nyaman.
Nahh.. berbeda dengan semester satu yang sering di prank, untuk perkenalanan diawal semester dua ini perkuliahan dimulai dengan pengalihan kegiatan kuliah yaitu sarapan bersama di belakang kampus. Memang terlihat sederhana, tapi dampaknya luar biasa yang erat menjadi semakin erat. Pada semester ini, Pak Edi memberikan kebebasan setiap mahasiswa untuk mengespresikan dirinya. Mulai dari mempelajari, memahami, menyajikan dan berdiskusi sepenuhnya diberikan kepada mahasiswa. Setiap mahasiswa diberikan pilihan mengenai topik apa yang ingin dibahas yang selanjutnya setiap mahasiswa akan mempresentasikannya dan mendiskusikannya. Topik yang dibahas membahas permasalahan-permasalahan baik mengenai Kewarganegaraan maupun permasalahan viral yang ada di Indonesia. Dengan begitu, kita akan lebih memahami apa yang kita pelajari serta menjadikan kita lebih berpikir kritis dan tanggap terhadap permasalahan yang ada. Mengingat akibat dari dampak Covid-19 pembelajaran perkuliahan yang dilakukan saat ini adalah memanfaatkan teknologi dalam jaringan, maka pembelajaran lebih banyak diarahkan untuk literasi dan menulis. Dengan ini, kemampuan mengolah pikiran secara struktural menjadi sebuah karya tulis akan terasah dengan lebih baik. Yang mana hal ini akan sangat berdampak positif bagi pengembangan kreativitas mahasiswa.
Selain itu, selama pembelajaran mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan, banyak sekali pengetahuan yang saya dapatkan. Kita diajarkan untuk bagaimana menyikapi suatu permasalahan dan menyelesaikan masalah baik yang berhubungan dengan sesama, hukum maupun negara. Mengajarkan bagaimana cara bersikap, menghargai, menghormati dan toleransi atas keberagaman. Dengan harapan setelah belajar akan menumbuhkan jiwa yang sesuai dengan nilai yang tercermin dalam setiap butir sila pancasila. Sehingga menjadikan pribadi yang bisa diandalkan untuk bisa berkontribusi demi berkemajuan nusa dan bangsa.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI